Skip directly to content

History

To read more please click the title or the picture.
Title The story
B. Warisan Hegelian City of Dreams Florence

Sejarah sosial, politik dan ekonomi berjalan sejak adanya peradaban manusia. Tetapi sejarah seni dan arsitektur dimulai sejak Hegel menemukan pemikiran bahwa seni tidak dapat dilihat sebagai satu sistim yang statis. Demetri Porphyries mengatakan bahwa sejarah dari "sejarah arsitektur" semenjak Strzygowski, Burckhardt, Riegl, Wolfin, Frankl, Wittkower, Pevsner, Gideon sampai dengan ahli - ahli masa kini, merupakan sejarah menginter-pretasikan kembali konsep dan ide yang ada di dalam warisan idealisme Hegelian.(1)

Paralel dengan sejarah seni dan arsitektur, kita dapat menelusuri  pengaruh dari

B. Hegelian's legacy.City of Dreams Florence

     The history of social, politic and economic happened since the human-being civilization. But history of art and history  of architecture started since Hegel found his idea that art can not be seen as a static system. Demetri Porphyrios said that the history of the history of architecture from Strzygowski, Burckhardt, Riegl, Wolfin, Frankl, Wittkower, Pevsner, or Gideon, to contemporary scholarship, has been the history of reinterpreting the concept of representation and idea, always remaining within the legacy of Hegelian idealism.(1)

Along the history of art and architecture, we can

Manfaat Sejarah Arsitektur Di Dunia KetigaOld Batavia Map

A. Pendahuluan

Mempelajari masa lalu menjadi demikian penting tatkala orang merasa bahwa kekacauan hidup hari ini berakar pada tahun-tahun yang telah lewat. Sejarah menjadi sumber ide untuk meraba masa datang dan mengatur kembali keadaan sekarang. Tetapi sejarah bukanlah medan studi yang statis, ia sedinamis gelombang samudra, bahkan dalam beberapa hal dapat menjadi gelombang yang paling dinamis dari hidup manusia. Apa yang terjadi hari ini akan menja­di sejarah esok pagi, apa yang terjadi pagi ini akan menjadi sejarah nanti sore.

Finding The History of Architecture in The Third World CountriesOld Batavia Map

A. Introduction

The study of the past became very important when the people feels that the chaotic life which is happened today is rooted to the past years. History became a source of idea to grasp the future and re arranged the actual condition. But history is not a static field of study,  it is as dynamic as the wave of the sea, even  in some cases could be the most dynamic wave of human life. What happened today is to be a history of tomorrow, what happened this morning will be a history of this afternoon, revolution in Rumania probably the best example for this

We present this paper as

Budaya Orang BataviaSion church at the end of Pangeran Jayakarta Street

Batavia adalah tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibawa oleh Belanda dan ethik Eropa lainnya, sementara itu kebudayaan Timur dibawa oleh orang Tionghoa, orang Arab, orang India serta kelompok etnik lain di Nusantara.

Di abad ke 17, di dalam tembok kota tinggal orang Belanda, orang Tionghoa dan para budaknya. Mereka hidup dengan mewah sejalan dengan kotanya yang makmur. Kemewahan itu dapat dilihat dari lukisan kuno  di mana tuan dan nonya berpakaian rapi, di temani budak-budaknya di belakang sambil memegangi payung dan Alkitab, pergi ke gereja.

Di Batavia jaman

The Culture of BatavianSion church at the end of Pangeran Jayakarta Street

Batavia was a meeting point between the Western culture and the Eastern culture. The western culture was brought by the Dutch, and other European ethnic groups, while the eastern culture was brought mostly by the Chinese, the Arab, the Indian and other ethnic groups in the archipelago.

In the 17th century, inside the town wall lived the Dutch, the Chinese and the slaves. They lived glamorously along the prosperity of the town.

DaendelsHerman Willem Daendels 1762-1818

 

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa pemberontakan orang Tionghoa 1740, orang Batavia sudah lupa dengan pembunuhan itu. Pulau Jawa sudah tidak lagi diperintah oleh VOC yang bangkrut diakhir abad ke 17, tetapi langsung oleh pemerintah Belanda. Seorang Gubernur Jendral yang baru Daendels tiba di Batavia pada tahun1803.

Salah satu Tugas utama Daendels selain membuat Batavia, sehat karena pada waktu itu Batavia benar-benar menjadi sarang penyakit, adalah mengorganisasi pertahanan untuk menghadapi Inggris.

DaendelsHerman Willem Daendels 1762-1818

More than half a century after the Chinese uprising in 1740, the Batavian had been forgotten with the murder. Java was not anymore ruled by VOC that was bankrupt in the end of 18th century, but the Netherlands. A new Governor General Daendels arrived in Batavia in 1803.

One of the main tasks of Daendels, in addition to making healthy Batavia, because at that time Batavia really became den of disease, was to reorganize the defense against British. In Batavia, everywhere were a lot of garbage piles and her shallow canals became mosquito breeding.

Kerusuhan 1740Chinese Messacre infront of city hall of Batavia old Jakarta

Orang Tionghoa di Asia Tenggara menguasai perdagangan telah ditunjukkan dengan jung-jung mereka yang mendarat di pantai Pulau Jawa. Disertasi Blusse memiliki presentasi lengkap dalam kasus Batavia dan pasangannya Amoy di Tiongkok Selatan. Junk-junk tersebut yang mendarat di pantai Jawa Tengah dan Jawa Timur mungkin tidak berbeda dengan junk-junk yang mendarat di Batavia. Akibat dari pembunuhan orang Tionghoa tahun 1740 di Batavia, orang Tionghoa melarikan diri dan mencari perlindungan pada permukiman-permukiman Tionghoa lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampaknya adalah, mereka membawa

Riot in 1740Chinese Messacre infront of city hall of Batavia old Jakarta

The Southeast Asian Chinese dominated trading had shown that Chinese junks landed on the coastal area of Java. Blusse’s dissertation has a complete presentation on the case of Batavia and her partner Amoy in south China. Those junk landed in the coastal area of Central and east Java would probably not much different to those landed in Batavia.

Due to the Chinese massacre in Batavia 1740, the Chinese escaped from the calamity to other Chinese settlement in central and East Java. As consequence they also brought political changes in the interior of the island.

Pages