Skip directly to content

History

To read more please click the title or the picture.
Title The story
DaendelsHerman Willem Daendels 1762-1818

 

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa pemberontakan orang Tionghoa 1740, orang Batavia sudah lupa dengan pembunuhan itu. Pulau Jawa sudah tidak lagi diperintah oleh VOC yang bangkrut diakhir abad ke 17, tetapi langsung oleh pemerintah Belanda. Seorang Gubernur Jendral yang baru Daendels tiba di Batavia pada tahun1803.

Salah satu Tugas utama Daendels selain membuat Batavia, sehat karena pada waktu itu Batavia benar-benar menjadi sarang penyakit, adalah mengorganisasi pertahanan untuk menghadapi Inggris.

DaendelsHerman Willem Daendels 1762-1818

More than half a century after the Chinese uprising in 1740, the Batavian had been forgotten with the murder. Java was not anymore ruled by VOC that was bankrupt in the end of 18th century, but the Netherlands. A new Governor General Daendels arrived in Batavia in 1803.

One of the main tasks of Daendels, in addition to making healthy Batavia, because at that time Batavia really became den of disease, was to reorganize the defense against British. In Batavia, everywhere were a lot of garbage piles and her shallow canals became mosquito breeding.

Kerusuhan 1740Chinese Messacre infront of city hall of Batavia old Jakarta

Orang Tionghoa di Asia Tenggara menguasai perdagangan telah ditunjukkan dengan jung-jung mereka yang mendarat di pantai Pulau Jawa. Disertasi Blusse memiliki presentasi lengkap dalam kasus Batavia dan pasangannya Amoy di Tiongkok Selatan. Junk-junk tersebut yang mendarat di pantai Jawa Tengah dan Jawa Timur mungkin tidak berbeda dengan junk-junk yang mendarat di Batavia. Akibat dari pembunuhan orang Tionghoa tahun 1740 di Batavia, orang Tionghoa melarikan diri dan mencari perlindungan pada permukiman-permukiman Tionghoa lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampaknya adalah, mereka membawa

Riot in 1740Chinese Messacre infront of city hall of Batavia old Jakarta

The Southeast Asian Chinese dominated trading had shown that Chinese junks landed on the coastal area of Java. Blusse’s dissertation has a complete presentation on the case of Batavia and her partner Amoy in south China. Those junk landed in the coastal area of Central and east Java would probably not much different to those landed in Batavia.

Due to the Chinese massacre in Batavia 1740, the Chinese escaped from the calamity to other Chinese settlement in central and East Java. As consequence they also brought political changes in the interior of the island.

Munculnya Sebuah Kota

Menurut Ong Tae Hae, Batavia adalah kota dataran rendah sebanding dengan kota-kota di Tiongkok seperti Shang Hai, dan perumahannya sangat padat (Ong 1849: 6). Kota ini dibangun tahun 1619 di atas puing Kota Jayakarta. Penjajahan dan dominasi adalah sifat yang selalu melekat pada fondasi pembangunan semua pemerintahan colonial; tetapi, untuk Batavia penjajahan itu menjadi sulit diterapkan karena setelah Jayakarta di kalahkan, semua penduduk aslinya ikut melarikan diri bersama pemimpinnya Pangeran Jaya Wikarta ke Banten, atau mereka menghilang begitu saja (Blusse, 1986: 3).

Sebelum dirampas

The Emergence of a Town

According to Ong Tae Hae, Batavia was a low city, probably compared to the cities in China such as Shang Hai, and the dwelling houses are dense (Ong 1849: 6). She was founded in 1619 on the ruins of the former principality of Jayakarta. Occupation and domination are the elements inherent in any colonial establishment’s foundation; however, in the case of Batavia, either the native population chose to follow their own rulers Jayawikarta Prince and fled to nearby Banten, or they were simply chased away (Blusse, 1986: 3).

Before the town was occupied by VOC and named Batavia, at this place

Pages