Skip directly to content

Top Issues

To read more please click the title or the picture.
Title The story
Seni Di Kota Tua JakartaSeorang Pelukis di Jalan Pintu Besar

Siapa bilang wong cilik di Jakarta hanya menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, serta mengotori jalan dan trotoar? Mereka adalah kelompok yang tersingkir dari kehidupan kota yang semakin modern. Sama nasibnya dengan kota tua yang bertembok kusam dan cat kusennya sudah lama terkelupas, terpinggirkan oleh bagian kota yang baru, berlantai granit yang mengkilat, kusennya dari alumunium, berdinding kaca yang menyilaukan. Tulisan ini akan membahas wong cilik dari sudut yang berbeda.

Art In Jakarta's Old TownA Painter at Pintu Besar Street

Who says grassroots in Jakarta only cause social and environmental problems, as well as littering the streets and the sidewalks? They are a group of people that is excluded from modern city life. Similar to the old city that is dull, the paint of its old frames had long been peeled. They are marginalized by the new part of town, shiny granite floors, frames of aluminum, dazzling glass-walled. This paper will discuss grassroots from a different angle. Grassroots whose talents is through the brush strokes on canvas, sketching pencil scribbles on paper which have artistic value.

Look for

Gambaran Batavia – Kota Tua JakartaPetak Sembilan Alley, Glodok

Batavia adalah nama lama Jakarta, ibukota Indonesia. Batavia dibangun tahun 1619 oleh gubernur jendral  Jan Pieterzoon Coen di lokasi yang sebelumnya adalah istana Pangeran Jayakarta.

Kota yang luasnya 1,1 kilometer persegi pernah dalam sejarahnya mengalami beberapa tragedy seperti wabah malaria serta pembunuhan orang Tionghoa tahun 1740 oleh orang Belanda. Kotanya dibakar dan setelah tragedi ini orang Tionghoa harus tinggal di luar tembok kota.

Di samping bangunannya banyak yang tidak terurus, Kota Tua Jakarta juga mengalami berbagai masalah lingkungan, seperti Kali Besar.

View of Batavia – Old JakartaPetak Sembilan Alley, Glodok

Batavia was the old name of Jakarta, the capital city of Indonesia. Batavia was founded in 1619 by the General Governor of East Indies Companies (VOC) Jan Pieterzoon Coen at the location that previously was the palace of Jayakarta Prince.

The old town that lies on 1,1 square Kilometer declined area suffered several tragic event on her history including the spread of Malaria and the worse tragedy where ten thousand Chinese were slaughter by the Dutch. The town was burned down and after the tragedy the Chinese should live outside of the town wall.

In addition to the many neglected buildings,

Menara Syahbandar yang MiringMenara Syahbandar yang Miring

Menara Syahbandar Batavia merupakan peninggalan penting dari Batavia. Dulu menara ini pernah menjadi Kilometer nol sebelum dipindahkan ke Monas. Menara ini dibangun di jaman Gubernur Jendral Antonio Van Diemen (1636-1645) dan menjadi bagian dari tembok kota. Banyak yang bisa digali dari menara ini baik dari sejarah sosial maupun sejarah politik. Tetapi sekarang dalam keadaan miring dan jika tidak cepat diperbaiki akan ambruk dan kita akan kehilangan satu lagi peninggalan kota Batavia. Kemiringan ini terjadi karena penurunan tanah dan kerusakan lingkungan.

The Slanting Syahbandar Tower The slanting syahbardar tower

The Batavia Tower of the Port is an important heritage of the town. The tower was used to be the zero Kilometer before the landmark was moved to Monas. The tower was built in the era of General Governor Antonio Van Diemen (1636-1645) and become part of the city wall. There are a lot of historical fact that we can find from this tower, social as well as political history. However this tower is slanting and if it is not repaired soon, it will collapse. We will lost one more important heritage of Batavia. The slanting is due to the land subsidence and environmental damage.