Skip directly to content

Architecture

To read more please click the title or the picture.
Title The story
2. Nama Tjigergracht (Kanal Macan)Tijgergracht

Pada awalnya tahun 1762, dengan meningkatnya urbanisasi di Batavia, predator ini menghilang. Setidaknya dicatat dalam buku nederland indie plakaatboek, menyebutkan tahun itu di bawah keputusan Gubernur Jenderal Van der Parra, yang menyatakan kebutuhan untuk membunuh harimau sudah tidak begitu besar. Tapi di abad sebelumnya itu nama harimau merupakan nama yang disegani sehingga dipakai untuk menamai sebuah kanal yang merupakan kanal terpanjang dan tertua di Batavia.

Kanal Macan terletak sejajar dengan Sungai Besar, yang dialiri sungai Ciliwong dan mengalir dari kanal Amsterdam sepanjang Town

2. The Name Tijgergracht (Tiger Canal)Tijgergracht

At the beginning of 1762, with increasing urbanization in Batavia, these predators disappear. At least recorded in the book of indie plakaatboek nederland, mentioning that the Governor-General Van der Parra decided that the need to kill the tiger was not so important any more. But in the previous century, the tiger's name was a respected name that is used to name a canal which was the longest and oldest canal in Batavia.

Tiger Canal lied parallel to the Great River, which flowed Ciliwung river and flows from Amsterdam canal along the Town Hall.

1. Kota yang IndahKapal-kapal di Batavia

Bukan suatu yang berlebihan jika para penyair memuja kota Batavia karena kanal-kanalnya yang ramai untuk arteri transportasi. Juga bukan suatu kebetulan bahwa kanal utama kota sebagian besar dibaptis dengan nama yang berasal dari dunia hewan tropis. Ada kanal buaya, singa, badak, macan dan kerbau yang semuanya terhubung menjadi kanal lalu-lintas. Batavia adalah kota yang dibangun dengan model “Vaderlandsch”, dengan sungai besar sebagai kanal utama yang terletak ditengah diantara kanal-kanal dan konstruksi batubata.

Sungai besar tadi adalah sungai Ciliwung yang memiliki enam belas anak

1. Beautiful CityThe Ships in Batavia

It was not excessive if the poets adored the city of Batavia as bustling canals for transportation arteries. Nor was it a coincidence that most of the city's main canals baptized with the name derived from the tropical animal world. There were canals crocodile, lion, rhino, tiger and buffalo were all connected into canal traffic. Batavia was a city built with the model of "Vaderlandsch", with large rivers as the main channel which was located in the middle between the canals and brick construction.

The great river was Ciliwung which had sixteen tributary, flowed from the Blue Mountains,

Tijgergracht (Kanal Macan) di BataviaPeta Batavia

Ada tulisan lama dari S Kalf yang menceritakan tentang keindahan kanal di Batavia, pada masa-masa VOC, orang Batavia memiliki prasarana lalu lintas dan, perhubungan air yang sempurna, yang semua keindahannya di tulis oleh penyair dan di gambarkan oleh para pelukis. Keindahan itu bukan karena kanal-kanal itu memiliki nama hewan dari alam tropis yang antara lain kanal badak, kanal buaya, kanal singa, kanal kerbau, yang semua itu dihubungkan dengan lalu-lintas seperti Venis di Italia. Dan tentu saja kanal-kanal itu tidak berbau. Inilah tulisannya

Tijgergracht (Tiger Canal) in BataviaThe Map of Batavia

There is an old article from S Kalf telling the beauty of the canal in Batavia, in the times of the VOC, the Batavian has perfect traffic infrastructure and water transportation, that all beauty was written by poets and depicted by painters. The beauty is not because the canals have animal names of tropical nature. Among them was rhinoceros canal, crocodile canal, lion canal, buffalo canal, and tiger canal which all were connected as traffic infrastructure like Venice in Italy. And of course, the canals are not smell.

Toko MerahToko Merah

Di sebut toko merah karena dulu kusennya berwarna merah.  Bukan hanya kusennya yang berwarna merah, mebel yang ada didalamnya juga berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri ke Tionghoaan seperti hal kelenteng. Karena semuanya berwarna merah dan fungsinya sebagai toko, maka dinamai Toko Merah. Rumah ini di pertengahan abad ke 19 di miliki oleh Oey Liaw Kong. Dia membuka toko di sebelah Kali Besar yang pada waktu itu masih ramai sebagai urat nadi perdagangan. Warna merah bata baru di tambahkan pada tahun 1923 ketika bangunan ini dimiliki dan dipakai oleh Bank Voor Indie.

Toko MerahToko Merah

Toko Merah means “red-store”. The store was called Toko Merah because all frames were in red. Not only the frame was in red, the furniture inside was also in red. The red color is the characteristic of Chinese-ness similar to the Chinese temple. Because everything is red and its function as a store, then it was named Toko Merah. This house in the mid-19th century was owned by Oey Liaw Kong. He opened a shop in the next Kali Besar (Ciliwung River) which at that time was still crowded as the lifeblood of commerce. The New red brick was added in 1923 when Bank voor Indie owned the building.

Arsitektur Tionghoa
Chinese Architecture

Pages