Skip directly to content

Belajar dari Gili Trawangan

Gili Trawangan Island West of Lombok Island
Pariwisata di Pulau Gili Trawangan

Gili bagi orang Pulau Lombok berarti pulau yang sangat kecil. Gili Trawangan adalah pulau kecil dari tiga gugusan pulau di sebelah Barat Pulau Lombok. Dua pulau kecil yang lain adalah Gili Meno dan Gili Air. Pulau ini sangat kecil, untuk mengelilinginya dengan cidomo atau dokar yang ditarik kuda hanya butuh waktu sekitar satu Jam. Jalan-jalannyapun sempit hanya selebar lima meter, bahkan pada ruas tertentu lebarnya hanya tiga meter. Selain itu, jalan-jalan ini masih merupakan jalan tanah berpasir. Namun tidak terbayangkan bahwa pulau ini berkembang menjadi tempat pariwisata dengan segala fasilitas kehidupan modern.

Wisatawan berlibur ke pulau ini bukan hanya pemandangannya yang indah dengan laut biru dan pasir putih, mereka juga dapat snorkeling sepuasnya untuk menikmati pemadangan dalam laut. Selain itu mereka datang kepulau kecil ini untuk mendapatkan suasana yang berbeda dimana di seluruh pulau tidak ada kendaraan bermotor sehingga udaranya bersih dari polusi tidak ada asap motor yang berbau bensin.

Transportasi di pulau kecil ini adalah sepeda, sepeda elektrik dan Cidomo. Di jalan-jalan cidomo, sepeda dan pejalan kaki bercampur sehingga sering terdengar bel sepeda dan terumpet cidomo bersahutan. Pada ruas Jalan yang terpadat, para wisatawan berseliweran berjalan kaki diantara sepeda dan cidomo seakan tidak takut tertabrak kuda. Herannya walaupun banyak terdapat kuda tetapi tidak ada kotoran kuda di jalan. Agar tidak berdebu, penduduk menyirami jalan setiap sore hari.

Walaupun tidak ada transportasi darat bermesin, disana tetap ada pembangunan karena mereka mengangkut pasir yang di bungkus, semen dan kayu dari perahu dengan cidomo. Tiap hari terlihat cidomo sibuk mengangkut material bangunan yang baru turun dari perahu. Tidak heran jika di pulau Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air terdapat restaurant, hotel, bungalow mewah, lengkap dengan kolam renangnya, toko seni, pasar seni, ATM, dan tempat kesehatan yang siap melayani wisatawan bila ada yang sakit.

Transpotasi dari Pulau Lombok dan Pulau Bali adalah dengan perahu baik tugboat (perahu yang berisi 40 orang) ataupun speedboat yang parkir di pantai dan berjajar rapi. Di pantaipun banyak wisatawan yang berjemur berdekatan dengan tempat parkir perahu karena tempat ini jauh dari polusi dan air lautnya bening. Pelabuhan dengan dok kapal, hanya ada di Gili Air, itupun kecil. Selain itu adalah pantai yang berpasir putih dan laut yang biru jernih.

Lebih extrem lagi di Gili Meno dan Gili Air sepeda dilarang sehingga orang harus berjalan kaki atau naik cidomo. Satu pemandangan yang biasa melihat wisatawan menarik kopornya di bawah terik matahari berjalan menuju hotel. Di Gili Meno ada jalan di pantai yang hanya boleh di lalui oleh pejalan kaki, cidomo harus lewat di belakangnya. Perahupun tidak boleh parkir di pantai, setelah selesai menurunkan penumpang perahu harus ketengah laut lagi. Di kedua pulau ini suasananya lebih tenang sehingga terkenal sebagai tempat untuk berbulan madu.

Suasana di malam haripun terang benderang dengan tempat hiburan dan restauran. Cidomo yang di Siang Hari berseliweran, di malam hari tidak ada sehingga suasananya-pun lebih nyaman. Para wisatawan berjalan hilir mudik mencari restauran untuk makan malam. Di halaman Pasar seni yang kosong di siang hari, dimalam hari penuh meja-kursi dan gerobak pedagang makanan. Di dekat tempat masuk terdapat pedagang makanan yang mengelar berbagai macam ikan yang siap di bakar.

Bagaimana dengan kota Lama Jakarta? Apakah mungkin menjadi tempat pariwisata seperti Gili Trawangan? Di kota tua Jakarta kalau ingin suasana unik sebaiknya kita kembalikan ke jaman dulu dimana tidak ada kendaraan bermotor dan hanya kereta kuda dan sepeda sebagai alat transpotasi. Wisatawan yang berkunjung ke kota tua Jakarta harus parkir di luar kota lama. Bahkan buswaypun dilarang masuk kota lama supaya bagian kota ini terbebas dari polusi. 

Jaman dulu di kota tua Jakarta ketika masih bernama Batavia, transportasi kota adalah perahu dan kereta kuda. Sekarang kanal-kanal di Batavia sudah tidak ada tetapi kereta kuda tetap bisa hadir sebagai transportasi kota. Salah satu penyebab kota lama Jakarta sulit di kembangkan menjadi daerah pariwisata karena terlalu banyaknya kendaraan bermotor sehingga pejalan kaki tersingkirkan. Hanya di plaza Museum Fatahilah dan di sekitarnya kendaraan bermotor tidak diperbolehkan masuk dan pejalan kaki dengan bebas dapat berjalan-jalan. Tempat inilah yang berkembang menjadi daerah wisata. Bayangkan jika kendaraan bermotor dilarang masuk di seluruh kota tua Jakarta, tentu wisatawan dapat dengan leluasa berkunjung ke berbagai obyek pariwisata seperti Toko Merah, Jembatan Pasar Ayam, Museum Bahari dan masih banyak lagi. Selain mengakibatkan polusi, kendaraan bermotor juga mempercepat kerusakan bangunan kuno.   

Tetapi itu semua dengan mudah dapat di tiru di kota lama Jakarta, lain dengan yang satu ini. Di Gili trawangan, orang menjaga pulaunya dengan kejujuran. Di Pulau ini tidak ada pencuri. Pintu kamar hotel boleh di biarkan tak terkunci dan tidak ada barang yang hilang. Bila ada yang kehilangan barang di Jalan, barang yang hilang itu akan kembali. Kejujuran adalah titik awal untuk mengembangkan daerah pariwisata karena wisatawan tidak takut di curi atau di copet harta-benda miliknya.

Pertanyaannya mampukah kota tua Jakarta menjadi bagian kota yang jujur, tidak ada pencuri atau perampok yang mengancam korbannya dengan pisau? Itulah tantangannya. Tetapi dengan kesadaran dari penduduk Jakarta akan pentingnya kejujuran untuk pengembangan pariwisata, bukan mustahil kota tua Jakarta akan seperti Gili Trawangan.

Kita tetap bermimpi akan kota tua Jakarta yang indah. Dan seperti Gili Meno, tempat yang ideal untuk berbulan madu.