Skip directly to content

Seri ID 030

on Thu, 10/20/2016 - 13:46
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong

Semakin malam suasana halaman rumah kapiten Nie Hoe Kong bertambah meriah. Penduduk yang menyaksikan musik Gambang Kromong bertambah banyak. Suara orkes alat musik Gesek Tehyuan, Kongahyan dan sukong yang sering terlihat di Tiongkok dibarengi dengan Gong, gendang, suling, boning, krecek dan rebab sebagai musik tradisional nusantara semakin syahdu mengiringi lagu-lagu yang penuh humor. Sebuah ensemble yang harmonis untuk melahirkan musik yang menawan. Gadis-gadis nan cantik memainkan Tehyuan dengan tangan cekatan, badannyapun mengayun mengikuti irama di timpa suara penyanyinya. Sebentar-sebentar diselingi gelak tawa diantara mereka, penuh dengan canda. Beberapa orang berjualan diluar tampak sibuk dengan pembelinya. Dan para tamu pun terlibat dalam pembicaraan yang semakin seru disertai dengan bau arak yang mengarungi seluruh Ruang. Batavia memang terkenal dengan araknya.

Tiba-tiba dari gerbang yang terbuka muncul tiga orang belanda yang tinggi besar. Semua orang terkesiap dan suara musikpun terhenti. Para gadis yang bermain musik  berlarian ketakutan. Semua mata memandang kearah pintu gerbang.

“Meneer Nie Hoe Kong, Kapiten Tionghoa, siapa saja yang turun dari kapal hari ini?” teriak tamu tak diundang ini dari halaman rumah.

Yang di panggil pun kelihatan memucat mata nya menatap kedepan.

“Yang turun dari Kapal di Batavia hanya Sinshe Tan Jin Bing Meneer baljuw Ferdinand de Roy” kata Kapiten Nie Hoe Kong. Jing Bing pun terkejut mendengar namanya disebut-sebut. Baljuw adalah polisi.

“Tan Jing Bing adalah Sinshe yang datang ke Batavia atas rekomendasi saya.” Sambung dokter Herman van Santen.

Ferdinand de Roy si tamu tak diundang pun menyodorkan kertas untuk diisi. Kapiten Nie Hoe Kong cepat-cepat meraihnya. Disebelahnya Cornelis Philips dan Hendrik Weimaar dua orang anak buahnya menyeringai menunjukkan kekejamannya.