Skip directly to content

Seri ID 031

on Fri, 11/04/2016 - 05:20
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong

“Semua penumpang dari kapal harus kami data untuk kota praja, kami tak ingin adanya imigran dari Tiongkok lagi, Batavia sudah terlalu penuh dengan orang Tionghoa.” kata orang ini sambil memelintir kumisnya. Wajahnya bulat tertutup cambang yang tidak perpelihara, matanya melotot mencari-cari kesalahan orang dan suaranya parau.

“Penumpang yang lain kemana?” tanya baljuw tadi.

“Tidak ada penumpang lagi meneer hanya satu sinshe Tan Jing Bing.” jawab kapiten Nie Hoe Kong.

“Ah aku tidak percaya, apakah ada yang kau sembunyikan?” tanya Cornelis Philips berkepanjangan, penuh curiga.

“Masak hanya satu orang yang mendarat dari kapal yang demikian besar?” Tanya de Roy penuh curiga.

“Lho, sebelum nya sudah aku laporkan ke Meneer Jubbels, masak masih dipertanyakan?” Sambung Nie Hoe Kong.

“Awas jika mereka Ik temukan dikota ini penumpang gelap dari junk yang datang tadi siang, kau akan aku jerat dengan hukuman, ingat setiap penumpang dari Tiongkok yang datang tanpa ijin harus dipenjarakan sampai Junk yang membawanya berangkat lagi ke Tiongkok.” katanya

“Isi formulir itu, besok pagi yang datang harus lapor di Balai Kota.” katanya.

“Meneer de Roy, sebagai baljuw apakah tidak dapat bersikap sopan?” Tanya dokter Van Santen.

Ferdinand de Roy tercengang dengan pertanyaan ini. “Orang Tionghoa itu licik tidak perlu di beri rasa hormat.” jawabnya sambil terus-menerus melintir kumisnya.

“Sebagai orang Belanda seharusnya bersikap sopan kepada orang Timur.” kata dokter van Santen dengan Tenang.

Yang diajak bicara hanya diam, semua diam, seluruh halaman menjadi hening. Kemudian ketiga baljuw itu berlalu. Ferdinand de Roy dan teman-temannya meninggalkan rumah Kapiten Nie Hoe Kong tanpa pamit, dengan cepat mereka naik kepunggung kudanya dan memacunya. Suasananya mencekam, suara kaki kuda mereka pergi menjauh. Sungguh sangat congkak opsir baljuw ini dan tidak bersahabat. Ferdinand de Roy sangat benci orang Tionghoa karena iri hati terhadap kemakmuran segelintir bangsa berkuncir ini. Tiap hari mereka suka memeras dengan menakuti orang Tionghoa. Sering kali mereka juga kurang ajar dan melecehkan kaum wanitanya.