Skip directly to content

Seri ID 034

on Tue, 01/24/2017 - 22:41
Penjara Wanita
Penjara Wanita

Asrama juru rawat yang disebut Zieken Oppaser, diperuntukkan bagi juru rawat yang belum menikah, berada di sayap samping belakang rumah sakit dengan pintu tembus yang terbuka. Mereka bergiliran menjaga pasien dan harus siap sedia jika keadaan pasien menjadi darurat. Dibelakang asrama mereka terdapat ruang mayat yang dapat dicapai dari jalan belakang. Pasien yang meninggal dibawa pulang dan diadakan upacara di rumah. Para pekerja non medis seperti juru masak, tukang cuci sprei dan alat-alat rumah sakit tinggal di luar rumah sakit, kecuali para budak yang bertugas membersihkan ruangan, mereka tinggal di sebelah ruang mayat.Juru masak adalah orang yang terlatih dengan masakan diet sesuai dengan permintaan dokter ataupun Sinshe.

Bagi orang yang menunggu keluarganya karena sakit keras, biasanya dapat membeli makanan di luar rumah sakit. Diantara para pedagang makanan, di dekat gerbang setiap hari ada pedagang Bak Pao yang berisi daging atau kacang ijo. Merupakan kebiasaan bagi para penunggu untuk membeli Bak Pao yang masih hangat, manis, dan gurih. Tidak jarang pula ada yang membeli untuk diberikan kepada saudaranya yang sakit dengan mencuri-curi karena kalau ketahuan juru rawat akan dilarang.

Di asrama ini Jing Bing tinggal, kamarnya terletak di sudut dan luas. Setiap pagi kamarnya yang pertama kali dibersihkan para Budak, sementara Jing Bing sudah bekerja menyembuhkan para pasiennya. Di rumah sakit dia bekerja dengan para pekerja rumah sakit. Mereka setiap kali mengajarinya berbahasa melayu walaupun lidahnya pelo tetapi tetap dapat komunikasi baik dengan orang Tionghoa yang kebanyakan sudah tidak dapat berbahasa Hokien ataupun orang Jawa dan Bali, yang tidak mendapat tempat di rumah sakit kota -  yang juga menjadi pasien rumah sakit ini. Dari para juru rawat inilah Jing Bing banyak mendapat cerita tentang Batavia. Kota ini sedang banyak menghadapi masalah kesehatan seperti Desentri dan Malaria.

Di Rumah sakit ini dia banyak berkenalan dengan dengan orang Tionghoa dan para budaknya. Mereka berkunjung untuk tusuk jarum dengan budak yang membawa payung. Orang Tionghoa yang tidak kayapun memiliki budak, seakan tiada hari tanpa budak. Satu hal yang sangat berbeda dengan di Fujian.