Skip directly to content

Novel

To read more please click the title or the picture.
Title The story
Seri ID 018Dok Kapal Di Batavia

Sedang dibagian Barat kota, sebagai bagian yang dikembangkan lebih belakangan banyak di huni orang Tionghoa yang menguasai perdagangan. Di bagian Barat ini terdapat Pasar ikan yang berumur sangat tua, bahkan sebelum Batavia berdiri dan dok kapal serta gereja portugis. Bagaikan lukisan, kedua bagian kota merupakan kombinasi bidang berwarna putih kusam pada dinding, merah kecoklatan pada atap, melebur pada jalan-jalan berlumpur berwarna coklat.

Seperti halnya Kastil, seluruh kota Batavia juga dikelilingi tembok dan kanal dengan pintu-pintu gerbang yang diberi nama kota di Belanda.

Series EN 018

Meanwhile, the western section of Batavia, developed later, was inhabited by the Chinese people who control the trade. In the West there was an old fish market, existed before the city was established, the ship dock and the Portuguese church. Like a painting, the two parts of the city was a combination of dull white field on a wall, red-brown on the roof, melted on the brown muddy roads.

As well as the castle, the entire city of Batavia was also surrounded by walls and canals with gates named towns in the Netherlands. Every night all gates were closed until dawn.

Seri ID 017Tempat Tinggal Gubernur Jendral Di Batavia

Disepanjang kanal perahu mulai berjalan perlahan, memasuki pelabuhan Batavia yang terkenal, pusat perdagangan dan pusat Huaqiao, orang Tionghoa perantauan di Nanyang. Air sungai yang beriak dan berwarna coklat bersuara pelan. Siang itu dikanan-kiri sungai sangat ramai dengan kuli-kuli pelabuhan yang sedang memuat rempah-rempah dan gula kedalam perahu yang merapat disitu. Kaki mereka telanjang, kulit mereka hitam legam terbakar Matahari.

Batavia dibagi menjadi dua, sebelah Timur dan Barat, dibelah oleh kali Ciliwung atau dikenal sebagai Kalibesar.

Series EN 017Inside the castle of Old Jakarta

Along the canal the boat began to move slowly, entering the famous port of Batavia, a trading center and the center of Huaqiao, the overseas Chinese in Nanyang. The brown rippling river whispered. The left and right of the river were very crowded with porters loading spices and sugar into a boat that docked there. Their feet bare, their skin black burning sun.

Batavia was divided into two, East and West, by Ciliwung River otherwise known as Great River.

Seri ID 016Kapal-kapal Besar Di Depan Muara Sungai Ciliwung

Semenjak berabad-abad yang lalu kota ini merupakan titik perdagangan yang penting di Asia Tenggara, bahkan menjadi pusat perdagangan dunia antara Amsterdam di eropa, Capetown di Afrika selatan, Kanton dan Nagasaki di Asia Timur. Dari perannya di dunia perdagangan ini, kota ini tidak pernah sepi dari Jung-jung yang datang dari Tiongkok Selatan.

Salah satu dari jung-jung tadi adalah jung yang berlayar dari provinsi Fujian. Jung yang sarat dengan barang-barang dagangan berjalan perlahan merapat kemuara Sungai Ciliwung, seakan kelelahan setelah berlayar lebih dari satu bulan.

Series EN 016In the estuary of Ciliwung River

Since centuries ago this town was an important trading point in Southeast Asia, and even became the center of world trade between Amsterdam in Europe, Capetown in South Africa, Cantonese and Nagasaki in East Asia. Of its role in the world trade, the city was never empty of the Junks coming from southern China.

Among tens of junks was a junk sailing from Fujian Province. The over loaded junk with merchandise sailed slowly, docked at the estuary of Ciliwung River, as if she was exhausted after sailing more than one month. Its sail was lowered, rolled by some sailors in middle of the ship.

Seri ID 015Pasar Ikan Di Batavia

                                                                      3. Batavia

Batavia, Maret tahun 1737. Orang Tionghoa menyebut kota ini Ye Cheng atau kota kelapa karena pohon kelapa ada dimana-mana. Kotanya indah. Dirancang oleh orang Belanda dengan baik dan dibangun oleh orang Tionghoa dengan teliti. Bagi para pelaut yang baru datang ke kota ini pasti akan terkesan dengan kanal-kanal dan bangunannya yang ber-nilai arsitektur tinggi. Letak Batavia berada di sebuah teluk, di muara sungai Ciliwung yang pernah terkenal dengan air yang jernih dan didepannya adalah pulau-pulau kecil.

Series EN 015

                                                                       3. Batavia

Batavia, in March 1737. The Chinese called this city Ye Cheng or the town of palm for palm trees everywhere. The city was beautiful. Well designed by the Dutch and built by the Chinese carefully. For the sailors who had just come into this city would definitely impress with the canals and the building of high architectural value. The location of Batavia was in a bay, at the mouth of the Ciliwung River, that once famous for crystal clear waters, and in front were small islands.

3. BataviaBatavia Di Dekat Menara Syahbandar

Batavia, Maret tahun 1737. Orang Tionghoa menyebut kota ini Ye Cheng atau kota kelapa karena pohon kelapa ada dimana-mana. Kotanya indah. Dirancang oleh orang Belanda dengan baik dan dibangun oleh orang Tionghoa dengan teliti. Bagi para pelaut yang baru datang ke kota ini pasti akan terkesan dengan kanal-kanal dan bangunannya yang ber-nilai arsitektur tinggi. Letak Batavia berada di sebuah teluk, di muara sungai Ciliwung yang pernah terkenal dengan air yang jernih dan didepannya adalah pulau-pulau kecil. Daerah belakangnya adalah pegunungan yang berjajar di sepanjang pulau Jawa.

3. Batavia

Batavia, in March 1737. The Chinese called this city Ye Cheng or the town of palm trees for they were everywhere. The city was beautiful. Well designed by the Dutch and built by the Chinese carefully. For the sailors who had just come into this city would definitely impress with the canals and the building of high architectural value. The location of Batavia was in a bay, at the mouth of the Ciliwung river that once famous for crystal clear waters and in front were small islands. Behind it was a mountainous area lining the island of Java.

Pages