Skip directly to content

Novel

To read more please click the title or the picture.
Title The story
Rumah Toko dan Rumah Teras Orang Batavia (2)

Di dalam tembok kota Batavia semua rumah-rumah nya adalah rumah toko dan rumah teras. Dari peta tahun 1733 tergambar dengan jelas bahwa semua rumah didalam tembok kota tidak memiliki halaman dan berbatasan langsung dengan Jalan. Ini menunjukan wilayah didalam tembok memiliki kepadatan yang tinggi. Itulah mengapa para pejabat VOC membangun rumah-rumah baru di sepanjang Molenvliet, sekarang dinamai jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.

Berbeda dengan rumah toko di Pecinan yang pintu bagian depan terbuka selebar toko, di Batavia ruko-ruko terdiri dari beberapa jendela dan pintu yang lebar.

Batavian Shop-house and Terrace-house (2)

Within the walls of Batavia city, the houses were shop-houses and terrace-houses. From the map in 1733 illustrated clearly that all the houses within the walls did not have a yard and directly adjacent to the street. It shows the area within the walls had a high density. That's why VOC officials built new houses along Molenvliet, now named Gajah Mada and Jalan Hayam Wuruk streets.

In contrast to the shop-house in Chinatown that the front door was open as wide as the shop width, in Batavia shop-houses was not opened as wide as the shop width, but the facade had several wide windows and a wide

Seri ID 004Kota Fuqing

2. Fuqing

Tiongkok adalah negeri diatas awan dengan kehidupan mendua, antara kepercayaan dan penolakan yang mengakar kedalam kehidupan rakyatnya. Disatu sisi Rakyat Tiongkok percaya akan tradisi bahwa Kaisar adalah putra surga yang duduk diatas tahta di kota terlarang – Beijing - dengan kosmologi yang mengatur kehidupan di segala penjuru angin. Bagian utara adalah kura-kura hitam, gurun Gobi yang kering tidak bersahabat. Sebelah barat adalah pegunungan Himalaya yang di percaya sebagai tempat macan putih.

Series EN 004

2. Fuqing

China was a land above the clouds with a bifurcated life, between belief and denial rooted into people's lives. On one side of the Chinese People believed in tradition that the Emperor was the son of heaven who sat on the throne in the Forbidden City - Beijing - with cosmology that governed life from all corners of the world. The northern part was a black turtle, unfriendly dry Gobi desert. The West was the Himalayas believed as a white tiger. The southern part was the Nan Yang – South Sea - believed to be a peacock, warmth and the emperor’s orientation when he sat on the throne.

2. FuqingJalan Sempit di Fuqing
2. Fuqing
Penelitian Modern Tentang Kelenteng di Jakarta

Penelitian pertama tentang kelenteng di jaman modern dilakukan oleh Denis Lombart dan Claudine Salmon (Lombart and Salmon, 1985). Mereka mengamati 70 kelenteng di Jakarta dari sudut kehidupan social orang Tionghoa. Dari 70 kelenteng ini, hanya kurang dari 10 buah yang dapat di kategorikan kelenteng yang tua dengan arsitektur yang unik. Hampir semuanya kelenteng baru atau renovasi yang dibangun kurang dari satu abad. Mereka menerbitkan penelitian ini dalam bahasa perancis dengan ringkasan dalam bahasa Inggris.

Modern Reseach on Chinese Temple in Jakarta

The first research on the chinese temple in modern era was done by Denis Lombart and Claudine Salmon (Lombart and Salmon, 1985). They study around 70 temples in Jakarta from the side of Chinese social life. However, among 70 temples only less than 10 could be included old temples with unique architecture. Most of them are new temples built less than a century. They published their research in French with a summary in English. The summary was translated into Indonesian by Yayasan Cipta Loka caraka.   Although the research is in Jakarta, it represents almost all temple in Java.

Tulisan Tentang Kelenteng

Rumah ibadah orang Tionghoa di Indonesia disebut Kelenteng. Kelenteng adalah kata dari Guan Yin Ting atau rumah ibadah Guan Yin (Lombart dan Salmon, 1985: 10).  Menurut Ezerman kata kelenteng dating dari suara lonceng yang datang dari kelenteng ketika ada upacara (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of Chinese community and the centre of Chinese cultural activity. Kelenteng merupakan pusat komunitas dan aktivitas budaya serta keagamaan orang Tionghoa. Ada 70 kelenteng di Jakarta tersebar di semua wilayah, ini memperlihatkan partisipasi orang Tionghoa sebagai bagian penghuni kota.

Tulisan

Writing on the Chinese temple

Chinese temple in Indonesia is called Kelenteng. It is a word that came from Guan Yin Ting or temple of Guan Yin (Lombart and Salmon, 1985: 10). According to Ezerman the word kelenteng comes from the sound of a bell that came out from the temple when there is a ceremony (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of religious and cultural activity of Chinese community. There are 70 of temple in Jakarta scattered in the cities manifest Chinese role in the setlement that makes common value of the inhabitants.

Writings on the Chinese temple in Java are scatered in several paper that are focusing on

Pages