Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
1. Playboy Batavia yang tewas di tiang gantunganJalan Pintu Kecil

Bagi orang yang lahir di Jakarta jaman dulu, nama itu sudah sangat dikenal. Bukan karena uangnya saja, tetapi ulahnya yang membuat orang tua gadis-gadis cantik khawatir setengah mati. Namun akhirnya Oey Tambahsia kena batunya juga.

Pada tahun 1837, Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai. Toko tembakau terbesar di jalan itu milik seorang pedagang besar Tionghoa asal Pekalongan, bernama Oey Thoa. Meskipun belum lama menetap di Betawi, Oey sudah cukup terkenal. Bukan saja karena kebesaran usahanya, tetapi juga kedermawanannya.

1. Batavia Playboy Who Died on The GallowsPintu Kecil Street

For people born in old Jakarta, the name Oey Tambahsia was already very well known. Not because of his richness, but his attitute that made all parents of beautiful girls half-dead worrying. But finally Oey Tambahsia hit the stone as well.

In 1837, Toko Tiga Street in Jakarta Kota was a bustling commercial center. The largest tobacco shop on the street belonged to a large Chinese merchant from Pekalongan, named Oey Thoa. Although not long ago settled in Betawi, Oey was quite famous. Not only because of the success of his business, but also his generosity.

Oey Tambahsia (ID)Sang Playboy Di Ting Gantungan

Pendahuluan

Batavia adalah kota yang penuh dengan kenangan. Umurnya yang tua, didirikan di paruh pertama abad 17, kota ini memiliki cerita sejarah yang pantas untuk di tulis kembali. Salah satunya adalah cerita tentang Oey Tambahsia yang sangat legendaris. Tulisan Siswadhi ini telah diterbitkan dalam majalah Intisari tahun 1984. Di dalam website Klikbatavia tulisan ini diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan baik supaya Sejarah Batavia diketahui oleh setiap orang.   

Oey TambahsiaThe Hang On The Playboy

Introduction

Batavia is a city full of memories. Her old age, founded in the first half of the 17th century, has a long history that deserves to be rewritten. One of them is the story of Oey Tambahsia who is very legendary. This Siswadhi’s writing has been published in Intisari magazine in 1984 and 1988. In Klikbatavia this article is translated into English so that every one will know the history of Batavia or old Jakarta.

Seri ID 037Titik-Titik Akupunktur di Kepala

Dari sekian banyak penyakit yang ditangani oleh rumah sakit Yang Tjee Ie, malaria merupakan penyakit yang mewabah dalam beberapa tahun ini. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk anopheles ini disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat. Sedangkan penyakit perut disentri merupakan penyakit kedua diderita oleh penduduk Batavia. Untuk menanggulangi wabah ini, berbeda dengan dokter Belanda, sinshe Tan banyak merujuk ke obat-obatan tradisional Tiongkok. Dan anehnya, dia lebih dipercaya dikalangan orang Tionghoa dari pada dokter Belanda.

Series EN 037Acupuncture Points at Head

Of the many diseases handled by Yang Tjee Ie hospital, malaria was an endemic in recent years. The diseases caused by the anopheles mosquito was initiated through an unhealthy environment. While stomach illness dysentery was the second disease suffered by the residents of Batavia. To combat this plague, in contrast to the Dutch doctor, sinshe Tan referred to many Chinese traditional medicine. And strangely, he is more trustworthy among the Chinese than the Dutch doctors. The incurable diseases such as gonorrhea could be cured with Tufuling or Rhizoma Smilacis Glabrae.

5. Hotel Kelas SatuReceptionis Hotel Des Indes

Usaha perluasan dengan menambah kamar-kamar baru diadakan pada tahun 1898. Sembilan tahun kemudian ditambah dengan sejumlah pavilyun baru. Bagian depan yang besar dengan lobby yang luas dibangun pada tahun 1931. Sedang rumah asli yang tampak sebagai bangunan induk dalam foto-foto kuno pada pertukaran abad ini, di tahun 1970an masih berdiri di bagian belakang, dikenal sebagai "rumah merah".

Sejak masa itu sampai tahun 1950an, Hotel des Indes merupakan hotel kelas satu yang tiada duanya dalam prestise dan kedudukannya di Jakarta. Setelah itu kedudukannva makin merosot.

5. First Class HotelReceptionist of Hotel Des Indes

Expansion efforts by adding new rooms held in 1898. Nine years later coupled with a new pavilion. The large front side, built in 1931, had a spacious lobby. While the original house that appeared to be the main building in the turn of 20th century old photographs, in the 1970’s was still standing in the back, known as the "red house".

From that time until the 1950’s, the Hotel des Indes was a first-class hotel like no other in the prestige and position in Jakarta. After that its positon was declining.

Seri ID 036Operasi di Jaman Dulu

Yang mengagumkan bagi Jing Bing adalah tindakan operasi pada pasien dimana pasien yang sakit di tidurkan dan di buka bagian yang sakit dan disembuhkan.Sistem pengobatan ini belum pernah dikenalnya. Tetapi sangat disayangkan karena para chirugijn muda banyak melakukan kegagalan sehingga banyak yang berakhir dengan kematian. Hanya dokter Samuel Christiaan Kriel yang lulusan universitas Leiden adalah dokter bedah yang pandai. Walaupun masih muda tetapi telah banyak pengalamannya. Dokter yang pandai ini sangat rendah hati dan senang berteman dengan semua orang termasuk dengan Jing Bing.

Series EN 036Surgery in The Old Time

What made astonishing for Jing Bing was the surgical operation where the sick patient was put in bed  and the surgeon opened the sick part of the body and healed. He never know this treatment before. But it was very unfortunate for the young chirugijn (surgeon), they made a lot of failure that ends in death. Only doctor Samuel Christiaan Kriel a graduate from Leiden university was a top surgeon. Although he was still young but has a lot of experience. He was a good doctor, very humble and happy to be friends with everyone, including with Jing Bing.

Pages