Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
Matahari Di Atas BataviaRumah Sakit Tionghoa di Batavia

Klik Batavia adalah website yang komplit tentang Batavia. Maka dari itu kurang lengkap kalau tidak ada novel yang bercerita tentang kota tua ini, menjadikannya panggung yang menegangkan dan sekaligus romantis.

Novel ini diangkat dari kehidupan nyata di Batavia, penelitian sejarah kota ini pada tahun 1737-1740 dimana mayoritas penduduk kota adalah orang Tionghoa dan yang memerintah adalah orang Belanda. Kehidupan Batavia pada saat itu sangat religius dengan dominasi kehidupan gereja protestan Kalvinis. Sebaliknya kehidupan dipecinan yang berada diluar tembok kota adalah agama kelenteng.

4. Lalu-LintasTiger canal now the north Batavia Station

Lalu lintas Batavia berarti kanal-kanal yang memainkan peran utama sebagai prasarana tranportasi. Warga Kanal Macan sebagian besar memiliki perahu sendiri yang ditambatkan di luar rumahnya. Bagaikan Venesia yang mana gondola-gondola itu di tambatkan dari Grand Canal sampai ke istana bangsawan; di Batavia juga ada perahu dikemudikan tukang tongkang orang Tionghoa. Dengan bayaran dua sen perahu akan mengantar penumpang kemana saja.

Kanal Macan adalah tempat warga kota bersantai sampai malam. Mereka duduk di tepi kanal sambil merokok pipa, dan minum segelas anggur.

4. The TrafficTiger canal now the north Batavia Station

Traffic in Batavia was canels that played a major role as a transportation infrastructure. Residents of Tiger canal mostly have their own boats moored outside his home. Like Venetian gondolas which was at anchor off the Grand Canal to the palace of the nobility; In Batavia there were also boats rowed by Chinese boatman. With a fee of two cents the boat would had taken passengers anywhere.

Tiger canal was a place where the townsfolk relax until late in the evening. They sat on the edge of the canal while smoking a pipe and drinking a glass of wine.

The Sun over BataviaChinese Hospital in Jakarta

Klik Batavia is a complete website about Batavia. Therefore it is incomplete if there is no novel telling life in this old town, making it a stage of romantic suspense.

This novel is based from a real life in Batavia, a historical research in the year 1737-1740 where the majority of its inhabitants was the Chinese and the ruler was the Dutch. Life among the Dutch in Batavia at that time was very religious and dominated by Calvinist. On the other hand the life at Chinese quarter outside the city wall is dominated by Chinese temple activity.

This novel is telling a story of a Sinshe (Chinese

Semarang Dilihat Dari Peta 1695Peta Semarang 1695

Merupakan teka-teki bagi para ahli sejarah mengenai bentuk kota semarang setelah tahun 1678. Sejak tahun itu Semarang telah dikuasai kompeni Belanda. Ini dapat kita lihat dari sebuah peta kuno tahun 1695. Sangat menarik untuk ditelusuri dari sudut arsitektur kota. Demikian pula sama menariknya dengan uraian sejarah yang sebenarnya masih butuh pembuktian. Peta itu adalah karya G van Broekhuysen dimuat dalam buku geologi tulisan Prof. Dr. Ir. R. W. van Bemmelen.

Pada peta kuno itu, tercantum keterangan "de dalem v.d Gouverneur” Sekalipun dalam kalimat itu disebutkan perkataan "Gouverneur" yg

Semarang Seen from The map of 1695The Map of Semarang in 1695

The year of 1678 and after is a puzzle for historians of Semarang urban form. Since that year Semarang has occupied by The Dutch East Indies Company (VOC) in which its situation can be browsed from an ancient map of 1695. It is interesting to explore the city from the point of architecture. Similarly, the historical description is interesting as it still needs proof. The map is the work of G van Broekhuysen published in geological book written by Prof. Dr. Ir. R. W. van Bemmelen.

On the maps, there is "de palace v.d Gouverneur". The word "Gouverneur" did not mean the VOC governor, but

Kehancuran Batavia LamaJatinegara 1941

Beberapa penulis yang pernah mengunjungi dan tinggal di Batavia menuliskan kesan-kesan mereka, baik tentang kehancuran Batavia setelah Daendels menjadi gubernur jenderal, maupun catatan tentang pinggiran Batavia setelah tembok kota di rumtuhkan sampai dengan tulisan tentang pariwisata di kota lama Batavia.

Sebelum Daendels datang Batavia mengalami kerusakan ekologi. Tetapi kerusakan ini tidak dapat disalahkan pada disain kota atau pada gempa bumi. Blusse menulis sebagai berikut:

Masalah yang mendasari kematian Batavia - transformasi dari sebuah kota yang sehat ke dalam kuburan - tidak harus

Old Batavia DestructionJatinegara 1941

Some writers who visited and lived in Batavia write their impressions, both about the destruction of Batavia after Daendels became governor general, as well as notes on the outskirts of after the tear down of Batavia city walls, until the article on tourism in the old city of Batavia.

Before Daendels came, Batavia experienced ecological damage as written by Blusse as follows:

The problem that underlay Batavia's demise – its transformation from a healthy city into a graveyard - should not be sought primarily in the Dutch layout of the town or in natural disasters.

Seri ID 019Seorang Tionghoa Pedagang Kelontong

“Anak muda, berlayar dari manakah? Kanton?” Tanya Cuncu dalam bahasa Hokien.

“Bukan, aku berlayar dari Xiamen.”

“Lho…kukira kapal tadi dari Kanton….” Sang nakhodapun melanjutkan “Ini kali pertama mengunjungi Ye Cheng?”

“Iya pak Cuncu, saya dengar Ye Cheng banyak orang Tionghoa ya?”

“Banyak, tapi lebih banyak yang tinggal di luar kota….Hanya orang Tionghoa yang kaya dan memiliki kedudukan di pemerintahan Kumpeni tinggal di dalam Kota” Kata sang nakhoda.

“Sudah berapa lama tinggal di Ye Cheng?” Tanya pemuda tadi.

“Aku lahir disini, ayah ku dari Fujian.”

“Orang Ye Cheng kebanyakan

Series EN 019A Chinese Kelontong Trader

"Young man, from where did you sail? Canton? "Asked the cuncu in Hokkienese.

"No, I was sailing from Xiamen."

"Well ... I think the junk was from Canton ...." The cuncu continued "Is this the first visit to Ye Cheng?"

"Yes sir, are there many Chinese live in Ye Cheng?"

"Many, but more of them live outside the city ... .Only the rich Chinese and have a position in the Kumpeni government live in the City" said the captain. Kumpeni was the Dutch VOC.

"How long have you lived in Ye Cheng?" Asked the young man.

"I was born here, my father came from Fujian."

"Ye Cheng people mostly speak

Pages