Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
5. Hotel Kelas SatuReceptionis Hotel Des Indes

Usaha perluasan dengan menambah kamar-kamar baru diadakan pada tahun 1898. Sembilan tahun kemudian ditambah dengan sejumlah pavilyun baru. Bagian depan yang besar dengan lobby yang luas dibangun pada tahun 1931. Sedang rumah asli yang tampak sebagai bangunan induk dalam foto-foto kuno pada pertukaran abad ini, di tahun 1970an masih berdiri di bagian belakang, dikenal sebagai "rumah merah".

Sejak masa itu sampai tahun 1950an, Hotel des Indes merupakan hotel kelas satu yang tiada duanya dalam prestise dan kedudukannya di Jakarta. Setelah itu kedudukannva makin merosot.

5. First Class HotelReceptionist of Hotel Des Indes

Expansion efforts by adding new rooms held in 1898. Nine years later coupled with a new pavilion. The large front side, built in 1931, had a spacious lobby. While the original house that appeared to be the main building in the turn of 20th century old photographs, in the 1970’s was still standing in the back, known as the "red house".

From that time until the 1950’s, the Hotel des Indes was a first-class hotel like no other in the prestige and position in Jakarta. After that its positon was declining.

Seri ID 036Operasi di Jaman Dulu

Yang mengagumkan bagi Jing Bing adalah tindakan operasi pada pasien dimana pasien yang sakit di tidurkan dan di buka bagian yang sakit dan disembuhkan.Sistem pengobatan ini belum pernah dikenalnya. Tetapi sangat disayangkan karena para chirugijn muda banyak melakukan kegagalan sehingga banyak yang berakhir dengan kematian. Hanya dokter Samuel Christiaan Kriel yang lulusan universitas Leiden adalah dokter bedah yang pandai. Walaupun masih muda tetapi telah banyak pengalamannya. Dokter yang pandai ini sangat rendah hati dan senang berteman dengan semua orang termasuk dengan Jing Bing.

Series EN 036Surgery in The Old Time

What made astonishing for Jing Bing was the surgical operation where the sick patient was put in bed  and the surgeon opened the sick part of the body and healed. He never know this treatment before. But it was very unfortunate for the young chirugijn (surgeon), they made a lot of failure that ends in death. Only doctor Samuel Christiaan Kriel a graduate from Leiden university was a top surgeon. Although he was still young but has a lot of experience. He was a good doctor, very humble and happy to be friends with everyone, including with Jing Bing.

4. Jacob LugtJacob Lugt

Jacob Lugt, pemilik baru yang membeli Hotel des Indes dalam tahun 1888, adalah seorang bekas militer dan pengusaha yang sukses. Dialah yang mulai mengusahakan hotel itu secara besar-besaran. Antara tahun-tahun 1891-94 dia membeli tanah-tanah di sekitarnya dan dijadikan suatu kompleks hotel yang cukup besar seluas 80.000 m persegi.

Tanah-tanah itu meliputi bekas Moenswijk yang dijadikan receptie-paviljoen, tanah Reinier de Klerk, persil yang disebut Hortus Medicus (kebun tanaman obat-obatan) douarier (janda) van der Parra dan persil Goldmann yang berbatasan dengan Gang Chaulan.

Jacob Lugt

4. Jacob LugtJacob Lugt

Jacob Lugt, the new owners who bought des Indes Hotel in 1888, was a former military and successful businessman. It was he who began to cultivate the hotel massively. Between the years 1891-1894 he bought the lands around it and made a large hotel complex of 80,000 sq m.

The lands was included former Moenswijk used as reception paviljoen, Reinier de Klerk land, parcels called Hortus Medicus (garden of medicinal plants) of the widow of van der Parra and Goldmann parcels bordering Chaulan Gang.

However, the wealthy Jacob Lugt did not gained success in the hospitality business.

Seri ID 035Kastil Batavia

Bagi para pasien, Sinshe Tan Jing Bing memang pelo dan bahasa Melayu nya tidak jelas ditelinga mereka, tapi Jing Bing terus berusaha dan berusaha memperbaikinya. Sinshe Tan tertarik dan senang dengan orang Batavia yang memiliki keragaman budaya dan kebanyakan ramah. Orang menyebutnya sinshe dan menghormatinya karena dia dianggap sebagai dewa penolong, tetapi sinshe Tan merasa biasa saja. Yang membuat nya sedih kalau orang mulai membeda-bedakan karena status sosialnya. Perbedaan status sosial yang membedakan antara orang merdeka dan budak.

Series EN 035The Castle of Batavia

For the patient, Sinshe Tan Jing Bing did babble and his Malay language was not clear in their ears, but Jing Bing kept trying and trying to speak better. Sinshe Tan interested and liked the Batavians whose culture are divers and mostly are friendly. People called him sinshe and respect him because he was regarded as a god healer, but sinshe Tan was still low profile. He was sad when people begin to discriminate one to another because of their social status. Social status differences that distinguish between the free men and the slaves.

3. Hotel de Provence Hotel des Indes Guest Pavilliun

Pada tahun 1828 rumah itu dibeli dua pengusaha Perancis bernama A. Chaulan dan J.J. Didero. Kedua orang ini agaknya memang berusaha di bidang perhotelan, sebab mereka mempunyai sebuah losmen di Bidara Cina. Nama Chaulan diabadikan untuk nama Gang Chaulan. Penduduk lama kota Jakarta mengenal gang itu dengan nama jalan Kemakmuran, yang kemudian berganti nama lagi menjadi jalan Hasyim Ashari.

Mula-mula hotel itu dikenal dengan nama Hotel Chaulan saja; kemudian menjadi Hotel de Provence (1835) untuk menghormati daerah kelahiran pemiliknya.

3. De Provence HotelHotel des Indes Guest Pavilliun

In 1828 the house was purchased by two French businessmen named A. Chaulan and J.J. Didero. Both are in the hospitality business, because they already had a hostel in Bidara Cina. The name Chaulan  was immortalized for an alley name Gang Chaulan. The old resident of the city called the alley Kemakmuran Street, which was then renamed again to Hasyim Ashari Street.

At first, the hotel was known as Hotel Chaulan only; later it became Hotel de Provence (1835) in honor of the owner’s birth place.

Pages