Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
A city is a Novel The oldest shophouse of Batavia needs to be preserved

A city is an accumulation of human life from all different viewpoints. Even from the viewpoint of history, a city can be portrayed from the angle of political history, economics history, social history, as well as building history. In many higher learning, urban history becomes an independent subject. Consequently urban history turns out to be a sub-discipline (if we may not say a discipline). From urban history has developed different pattern about space and activity inside the space.

Kuliner Batavia

Kota Tua Jakarta dan sekitarnya sebagai tempat pertemuan berbagai etnis memiliki berbagai macam kuliner yang harus dicoba. Walaupun penduduknya datang dari berbagai penjuru, setelah sampai disini lidahnya mirip satu sama lain ketika menikmati masakan Batavia atau masakan Betawi.

Ada puluhan masakan orang Batavia yang sekarang disebut masakan Betawi, biasanya campuran santan sayuran dan daging. Ada juga minuman yang asli Betawi seperti Bir Pletok, yang bahannya terbuat dari gula kelapa dan lahe tanpa alcohol.

Batavian Culinary

Batavia and its surrounding as a meeting place for many ethnics has so many culinary. Although people who came to Batavia originated from everywhere in the world, once they live in here, their tongue will be similar in tasting the special culinary of Batavia. 

There are tens of Batavian foods, nowadays is called Betawi food. Usually, they are a mixture of  coconut milk, vegetable, and meat. There are also beverages special to Betawi such as Bir Pletok, the so called beer that is made of coconut palm sugar and ginger without alcohol.

Menara Syahbandar yang MiringMenara Syahbandar yang Miring

Menara Syahbandar Batavia merupakan peninggalan penting dari Batavia. Dulu menara ini pernah menjadi Kilometer nol sebelum dipindahkan ke Monas. Menara ini dibangun di jaman Gubernur Jendral Antonio Van Diemen (1636-1645) dan menjadi bagian dari tembok kota. Banyak yang bisa digali dari menara ini baik dari sejarah sosial maupun sejarah politik. Tetapi sekarang dalam keadaan miring dan jika tidak cepat diperbaiki akan ambruk dan kita akan kehilangan satu lagi peninggalan kota Batavia. Kemiringan ini terjadi karena penurunan tanah dan kerusakan lingkungan.

The Slanting Syahbandar Tower The slanting syahbardar tower

The Batavia Tower of the Port is an important heritage of the town. The tower was used to be the zero Kilometer before the landmark was moved to Monas. The tower was built in the era of General Governor Antonio Van Diemen (1636-1645) and become part of the city wall. There are a lot of historical fact that we can find from this tower, social as well as political history. However this tower is slanting and if it is not repaired soon, it will collapse. We will lost one more important heritage of Batavia. The slanting is due to the land subsidence and environmental damage.

Munculnya Sebuah Kota

Menurut Ong Tae Hae, Batavia adalah kota dataran rendah sebanding dengan kota-kota di Tiongkok seperti Shang Hai, dan perumahannya sangat padat (Ong 1849: 6). Kota ini dibangun tahun 1619 di atas puing Kota Jayakarta. Penjajahan dan dominasi adalah sifat yang selalu melekat pada fondasi pembangunan semua pemerintahan colonial; tetapi, untuk Batavia penjajahan itu menjadi sulit diterapkan karena setelah Jayakarta di kalahkan, semua penduduk aslinya ikut melarikan diri bersama pemimpinnya Pangeran Jaya Wikarta ke Banten, atau mereka menghilang begitu saja (Blusse, 1986: 3).

Sebelum dirampas

The Emergence of a Town

According to Ong Tae Hae, Batavia was a low city, probably compared to the cities in China such as Shang Hai, and the dwelling houses are dense (Ong 1849: 6). She was founded in 1619 on the ruins of the former principality of Jayakarta. Occupation and domination are the elements inherent in any colonial establishment’s foundation; however, in the case of Batavia, either the native population chose to follow their own rulers Jayawikarta Prince and fled to nearby Banten, or they were simply chased away (Blusse, 1986: 3).

Before the town was occupied by VOC and named Batavia, at this place

Konsep Kami

Kota bagaikan manusia yang berkembang sangat cepat, baik bertambah besar ataupun justru mengecil mendekati keadaan sekarat. Perkembangan seperti ini dapat terjadi diseluruh wilayah kota atau bagian wilayah kota. Kota tidak akan berhenti berkembang sebab kedinamisan manusia yang hidup didalamnya. Bahkan kota mati sekalipun, yang tidak dihuni, adalah obyek riset akheologi untuk mengetahui bagaimana cara orang jaman dulu berhuni. Dalam kota yang baik orang mengorientasikan aktifitasnya ke titik tertentu, mengarah pada hidup yang dinamis.

Our Concept

A city is as a human being that develops very fast, either becoming larger or smaller close to the state of dying. This kind of development could happen to the whole city or part of the city. A city will never stop evolving because of the dynamism of the human beings who live in it. Even a dead city, inhabited by no one, becomes an archeological research subject in understanding how people in the past use to subsist in it. In a good city, mankind orients its activity to a certain point so that its life is directed with dynamism.

Selamat DatangPasar Baru dari Atas

Goodemorgen para Batavian.

Selamat datang di Klik Batavia! Tempat berbincang dan berdiskusi tentang Batavia, kota lama Jakarta. Sebagai admin, saya mengharapkan anda merasa kembali kemasa lampau. Memang Batavia sendiri banyak diceritakan orang Jakarta tetapi belum ada situs yang menfokuskan diri pada perbicangan dan diskusi tentang Batavia.

Walaupun Batavia hanya bagian yang sangat kecil dari Indonesia, karena  merupakan kota tua ibukota Negara dia adalah cermin pembangunan kota lama di seluruh Indonesia.

Pages