Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
Modern Reseach on Chinese Temple in JakartaJin De Yuan The Oldest Chinese Temple in Batavia

The first research on the chinese temple in modern era was done by Denis Lombart and Claudine Salmon (Lombart and Salmon, 1985). They study around 70 temples in Jakarta from the side of Chinese social life. However, among 70 temples only less than 10 could be included old temples with unique architecture. Most of them are new temples built less than a century. They published their research in French with a summary in English. The summary was translated into Indonesian by Yayasan Cipta Loka caraka.   Although the research is in Jakarta, it represents almost all temple in Java.

Tulisan Tentang KelentengInterior of Jin de Yuan temple in old Jakarta

Rumah ibadah orang Tionghoa di Indonesia disebut Kelenteng. Kelenteng adalah kata dari Guan Yin Ting atau rumah ibadah Guan Yin (Lombart dan Salmon, 1985: 10).  Menurut Ezerman kata kelenteng dating dari suara lonceng yang datang dari kelenteng ketika ada upacara (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of Chinese community and the centre of Chinese cultural activity. Kelenteng merupakan pusat komunitas dan aktivitas budaya serta keagamaan orang Tionghoa. Ada 70 kelenteng di Jakarta tersebar di semua wilayah, ini memperlihatkan partisipasi orang Tionghoa sebagai bagian penghuni kota.

Tulisan

Writing on the Chinese templeInterior of Jin de Yuan temple in old Jakarta

Chinese temple in Indonesia is called Kelenteng. It is a word that came from Guan Yin Ting or temple of Guan Yin (Lombart and Salmon, 1985: 10). According to Ezerman the word kelenteng comes from the sound of a bell that came out from the temple when there is a ceremony (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of religious and cultural activity of Chinese community. There are 70 of temple in Jakarta scattered in the cities manifest Chinese role in the setlement that makes common value of the inhabitants.

Writings on the Chinese temple in Java are scatered in several paper that are focusing on

Kota Sebagai sebuah NovelRuko tertua Bavia yang perlu di preservasi

Kota merupakan akumulasi kehidupan manusia dari segala sudut pandang yang berbeda-beda. Bahkan dalam sudut pandang sejarah saja kota dapat dipotret dari berbagai segi baik dari segi sejarah politik, sejarah ekonomi, sejarah sosial, ataupun sejarah bangunan. Di berbagai perguruan tinggi, sejarah kota merupakan satu mata kuliah tersendiri. Konsekuensinya sejarah kota merupakan satu sub-disiplin ilmu (andaikata tidak boleh dikatakan disiplin ilmu). Dari sejarah kota ini berkembang berbagai pola-pola yang menghubungkan antara ruang dan kegiatan dalam ruang.

A city is a Novel The oldest shophouse of Batavia needs to be preserved

A city is an accumulation of human life from all different viewpoints. Even from the viewpoint of history, a city can be portrayed from the angle of political history, economics history, social history, as well as building history. In many higher learning, urban history becomes an independent subject. Consequently urban history turns out to be a sub-discipline (if we may not say a discipline). From urban history has developed different pattern about space and activity inside the space.

Kuliner Batavia

Kota Tua Jakarta dan sekitarnya sebagai tempat pertemuan berbagai etnis memiliki berbagai macam kuliner yang harus dicoba. Walaupun penduduknya datang dari berbagai penjuru, setelah sampai disini lidahnya mirip satu sama lain ketika menikmati masakan Batavia atau masakan Betawi.

Ada puluhan masakan orang Batavia yang sekarang disebut masakan Betawi, biasanya campuran santan sayuran dan daging. Ada juga minuman yang asli Betawi seperti Bir Pletok, yang bahannya terbuat dari gula kelapa dan lahe tanpa alcohol.

Batavian Culinary

Batavia and its surrounding as a meeting place for many ethnics has so many culinary. Although people who came to Batavia originated from everywhere in the world, once they live in here, their tongue will be similar in tasting the special culinary of Batavia. 

There are tens of Batavian foods, nowadays is called Betawi food. Usually, they are a mixture of  coconut milk, vegetable, and meat. There are also beverages special to Betawi such as Bir Pletok, the so called beer that is made of coconut palm sugar and ginger without alcohol.

Menara Syahbandar yang MiringMenara Syahbandar yang Miring

Menara Syahbandar Batavia merupakan peninggalan penting dari Batavia. Dulu menara ini pernah menjadi Kilometer nol sebelum dipindahkan ke Monas. Menara ini dibangun di jaman Gubernur Jendral Antonio Van Diemen (1636-1645) dan menjadi bagian dari tembok kota. Banyak yang bisa digali dari menara ini baik dari sejarah sosial maupun sejarah politik. Tetapi sekarang dalam keadaan miring dan jika tidak cepat diperbaiki akan ambruk dan kita akan kehilangan satu lagi peninggalan kota Batavia. Kemiringan ini terjadi karena penurunan tanah dan kerusakan lingkungan.

The Slanting Syahbandar Tower The slanting syahbardar tower

The Batavia Tower of the Port is an important heritage of the town. The tower was used to be the zero Kilometer before the landmark was moved to Monas. The tower was built in the era of General Governor Antonio Van Diemen (1636-1645) and become part of the city wall. There are a lot of historical fact that we can find from this tower, social as well as political history. However this tower is slanting and if it is not repaired soon, it will collapse. We will lost one more important heritage of Batavia. The slanting is due to the land subsidence and environmental damage.

Munculnya Sebuah Kota

Menurut Ong Tae Hae, Batavia adalah kota dataran rendah sebanding dengan kota-kota di Tiongkok seperti Shang Hai, dan perumahannya sangat padat (Ong 1849: 6). Kota ini dibangun tahun 1619 di atas puing Kota Jayakarta. Penjajahan dan dominasi adalah sifat yang selalu melekat pada fondasi pembangunan semua pemerintahan colonial; tetapi, untuk Batavia penjajahan itu menjadi sulit diterapkan karena setelah Jayakarta di kalahkan, semua penduduk aslinya ikut melarikan diri bersama pemimpinnya Pangeran Jaya Wikarta ke Banten, atau mereka menghilang begitu saja (Blusse, 1986: 3).

Sebelum dirampas

Pages