Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
1. Hotel Des IndesHotel des Indies

1. Hotel Des Indes

Dengan dibangunnya kompleks pertokoan Duta Merlin pada tahun 1971, tamatlah riwayat Hotel  Duta Indonesia. Sebuah hotel kenamaan seperti Raffles Hotel Singapura atau Clarence House di London. Jakarta pun kehilangan satu gedung beriwayat lagi, yang telah menyaksikan perkembangan kota ini dari akhir abad ke-18 sampai tahun 70-an.

Tidak seluruh Hotel Duta Indonesia yang dulu bernama Hotel des Indes berusia setua itu. Bagian yang tertua ialah dependance atau pavilyun sebelah selatan yang biasanya dipakai untuk resepsi atau pameran.

1. Hotel Des IndesHotel des Indies

1. Hotel Des Indes

With the construction of shopping complex Duta Merlin in 1971, Hotel Duta Indonesia’s history is finished. It was a famous hotel like Raffles Hotel in Singapore or Clarence House in London. Jakarta lost one more historical building, which has witnessed the development of this city from the late 18th century until the 70s.

Not all parts of Hotel Duta Insonesia, formerly Hotel des Indes, was as old as that. The oldest part was the south pavilion, usually used for receptions or exhibitions.

Hotel des Indes (ID)Hotel des Indes

Pendahuluan

Kalau kita sekarang berbicara tentang Duta Merlin, tentu sudah tidak ada bekasnya. Bagi kaum muda mungkin hanya tahu Duta Merlin di kawasan Harmoni yang sekarang telah menjadi area pertokoan dan perkantoran. Duta Merlin dulunya adalah hotel yang sangat kenamaan dan bergengsi di Jamannya.

Artikel ini ditulis oleh Siswadhi berjudul Matinya Hotel yang Berumur 115 Tahun dan diterbitkan dalam majalah Intisari terbitan Juni 1988 yang berjudul Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe.

Hotel des IndesHotel des Indes

Introduction

If we are now talking about Hotel des Indies, it would have been disappeared. For young people may only know Duta Merlin in the area of Harmoni which has become an area of shops and offices. Duta Merlin before was a very famous and prestigious hotel.

This article was written by Siswadhi entitled Death of a Hotel that was already 115 Years Old and published in Inti Sari magazine, June 1988 entitled The Story Batavia Old Jakarta. We translate this article into English in order to be read by every one as promotion of Jakarta Old City tourism.

Seri ID 033Rumah Sakit Tionghoa di Batavia

5. Rumah Sakit Yang Tjee Ie

Kantor Jing Bing berada dibagian depan gedung rumah sakit yang berwarna putih. Dari ruang kerja nya dapat dilihat jalan yang di tumbuhi pohon kelapa di sepanjang kanal. Kanal di bagian barat kota itu ramai dengan perahu mengangkut barang bagi pedagang Tionghoa yang tinggal disitu. Pohon-Pohon Kelapa yang tinggi melebihi tinggi Rumah Sakit melambai-lambai ditimpa angin laut yang menurut orang Belanda membawa penyakit baik sakit demam ataupun sakit perut yang mengakibatkan kematian.

Series EN 033Chinese Hospital in Batavia

5. Yang Tjee Ie Hospital

Jing Bing's office was at the front building of the hospital which was white. From his office he could see the street along the canal that was covered by coconut trees. The canal in the western part of the city was crowded with boats transporting goods for Chinese traders who lived there. The high coconuts trees above the Hospital was waving, overwritten by the sea breeze, that according to the Dutch, brought the disease either fever or abdominal pain resulting in death. The dirty canal water showed a bad irrigation system has happened to this city.

5. Rumah Sakit Yang Tjee Ie Salah Satu Sudut Jalan Utrecht

Kantor Jing Bing berada dibagian depan gedung rumah sakit yang berwarna putih. Dari ruang kerja nya dapat dilihat jalan yang di tumbuhi pohon kelapa di sepanjang kanal. Kanal di bagian barat kota itu ramai dengan perahu mengangkut barang bagi pedagang Tionghoa yang tinggal disitu. Pohon-Pohon Kelapa yang tinggi melebihi tinggi Rumah Sakit melambai-lambai ditimpa angin laut yang menurut orang Belanda membawa penyakit baik sakit demam ataupun sakit perut yang mengakibatkan kematian.

5. Yang Tjee Ie HospitalA Corner of Utrecht Street

Jing Bing's office was at the front building of the hospital which was white. From his office he could see the street along the canal that was covered by coconut trees. The canal in the western part of the city was crowded with boats transporting goods for Chinese traders who lived there. The high coconuts trees above the Hospital was waving, overwritten by the sea breeze, that according to the Dutch, brought the disease either fever or abdominal pain resulting in death.

5. Epilog: Negasi-negasi ArsitekturGlodok dan Selera Komersial

Didasari oleh ideologi, Arsitektur bukan lagi menjawab soal pemasaran real estate tetapi merupakan narasi didalam sebuah buku novel pembunuhan setebal bantal. Alur narasi tadi melompat-lompat, memberikan pengalaman chaos bagi para pembaca dan demikian memusingkan. Dia bukan novel Agatha Christie yang membangun suspense dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya yang berurutan sampai ke titik klimaks untuk diungkap pembunuhnya. Kekacauan pembunuhan dalam narasi arsitektur juga bukan novel "Murder in Batavia" yang membangun satu kehidupan kota masa lampau yang telah dilupakan banyak orang.

5. Epilog: The Architecture Negations Glodok and Commertial Tastes

Inspired by ideology, architecture no longer answers the real estate marketing but it is a narrative in a book as thick as a murder novel. Its narrative flow was jumping up and down, giving the experience of chaos for the readers and thus confusing. It is not an Agatha Christie novel that builds suspense from one event to the next sequential to the point of climax to uncover the killer. The chaos murder in narrative architecture is not the novel "Murder in Batavia" that built a city life of the forgotten past.

Pages