Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
Art-Deco di JakartaInterior Museum Bank Indonesia

Jakarta adalah kota dengan gaya arsitektur Art-Deco, demikian kata teman yang melihat gaya Art-Deco sebagai dominasi gaya bangunan di Jakarta tahun 1930an. Tetapi banyak orang Jakarta yang tidak tahu apa itu Art-Deco. Ada orang yang mendengar kata Art-Deco saja baru pertama kali. Bahkan ada juga mahasiswa arsitektur yang merasa asing dengan kata-kata Art-Deco. Ini semua dapat kita maklumi karena di sekolah mereka tidak pernah diajarkan tentang sejarah seni selain sejarah perjuangan dan perang.

Art-Deco in JakartaInterior of Bank Indonesia Museum

Jakarta is a city of Art-Deco architectural style, according to a friend who saw an Art-Deco style as building style domination in Jakarta 1930s. But many people in Jakarta do not know what is Art-Deco. There are those who heard the word Art-Deco for the first time. In fact, there are also students of architecture who are unfamiliar with the words Art-Deco. We can understand all of these, because at school they never learned the history of art in addition to the history of struggle and war.

9. Huru-HaraPelelangan Budak di Batavia

Tetapi juga ada yang cukup berbeda di Kanal Macan yaitu pembunuhan yang membuat panik semua orang. Kejadian itu terjadi ketika para budak dari dalam rumah orang kaya tiba-tiba mengamuk, ketika timbul kecemburuan antara para budak yang menjadi perseteruan pahit antar pribadi. Seorang budak menusukkan keris ke tubuh budak yang lain dan kemudian, dalam hiruk pikuk yang berdarah ini, budak tadi berlari di sepanjang jalan bagai banteng, membabat siapa saja yang ditemui.

Catatan Harian kastil Batavia berisi beberapa catatan tentang peristiwa berdarah contoh pada tanggal  31 Juli 1659 terdapat

9. RiotSlave Auction in Batavia

There was also a different atmosphere in the Tiger canal namely a murder that caused panic to everyone. The incident occurred when the slaves of a rich man suddenly run amok. Jealousy arose between the slave that became a bitter feud between individuals. A slave thrust a keris (Javanese Sword)  into the body of the other slaves and then, in the bustle of this bloody, the slave had run along the road like a bull, thrashed anyone he met.

The diary of Batavia castle contained some notes about the bloody events. For example, on July 31, 1659 contained the following events below:

,,One evening a

Seri ID 024Penjara Wanita di Batavia

Keduanya turun dari perahu, naik ke jalan dan memasuki gerbang rumah sakit. Rumah Sakit milik orang Tionghoa, Yang Tjee Ie - dalam bahasa Hokien -  atau Yangji Yuan - Dalam bahasa Han Yu - berdiri 1640 ini terletak di Rhinocergracht didekat sudut Utrechtsestraat, disebelah penjara wanita yang tertutup, beberapa blok dari Kalibesar. Bangunannya cukup besar dan diteduhi pohon kelapa. Dari jalan tampak tembok putih memanjang dengan pintu gerbang yang diukir, didalam tampak pekarangan yang luas dengan pohon-pohon peneduh. Rumah Sakit Yang Tjee Ie yang berlantai satu tampak megah.

Series EN 024Women's prison of Batavia

Both of them got off the boat, up to the street and entered the hospital gates. The hospital belonged to the Chinese people, Yang Tjee Ie - in Hokienese - or Yangji Yuan - In Han Yu - established in 1640 was located in Rhinocergracht near the corner of Utrechtsestraat, next to the closed women's prison, a few blocks from Kalibesar. The building was quite large and shaded by coconut trees. From the street it looked elongated white wall with carved gate, the inside was large yard with shade trees. One storey Yang Tjee Ie hospital looked luxurious.

8. Pernikahan dan PemakamanSuasana Di Dalam Kastil

Kadang-kadang di Kanal Macan ada acara resmi yang penuh sukacita, dan juga acara berkabung. Ketika pernikahan diadakan di salah satu rumah besar dengan pesta meriah ada rumah yang berduka di mana kereta jenazah berada di depan pintu. “Orang mati dan pengantin keduanya harus keluar dari rumah" kata-kata ini berlaku di Batavia tanpa kekecualian. Jadi pemakaman seorang Laki-laki atau perempuan mengambil tempat  umum bersama. Orang mati tidak boleh di kubur di dalam rumah, itu berlaku di seluruh Batavia.

8. Wedding and FuneralInside The Castle

Sometimes in Tiger Canal lasted official event of joy, and also mourning. When the wedding was held in a big house with a huge party, there was a grieving house where the hearse was in front of the door. “The dead man and the groom must both be out of the house" So the funeral of a man or a woman took a public place together. The dead were not to be buried in the house, it had applied throughout Batavia. When the Governor General Carel Reyniersz funeral, a procession walked from the castle through Princestraat, across the field before Tiger canal, past nieuwpoort street to church.

Wajah Yang MenduaHeerestraat

Kita mengenal jalan Anyer-Panarukan yang menghubungkan berbagai kota di Pulau Jawa yang akhirnya menjadi jalur Pantura. Pembangunan jalan yang di lakukan Daendels dengan mengorbankan sepuluh ribu nyawa manusia ini telah mengakibatkan timbulnya kota-kota di sepanjang jalan ini. Jalan ini menjadi jalur ekonomi Pulau Jawa yang jika terganggu akan mengakibatkan terganggunya nadi ekonomi seluruh negeri. Kita juga mengenal Lapangan Banteng, Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden, Gereja Imanuel, dan berbagai bangunan di sekitar Monas.

An Ambiguous FaceHeerestraat

We know the road from Anyer to Panarukan linking various cities in Java which eventually became the northern coast line. Daendels road construction done at the expense of tens of thousands of human lives has led to the emergence of the towns along this road. This road is the main Java island economic line which if disturbed would lead to disruption of the economic pulse of the whole country. We also know the Banteng Square, the Presidential and Vice Presidential Palaces, Immanuel Church, and various buildings around Monas, the national park.

Pages