Skip directly to content

Biography

2. Langsung jadi 'letnan'

Selesai lelang Oey dihampiri Mayor Tan Eng Goan, salah seorang pemimpin masyarakat Tionghoa terkemuka di Batavia masa itu. Pemuka itu mengajaknya pulang bersama naik kereta. Persahabatan antara keduanya meningkatkan gengsi Oey di mata masyarakat Tionghoa. Pada suatu ketika Tan mengusulkan kepada pemerintah Belanda agar Oey diangkat menjadi letnan dan anggota Dewan Tionghoa (Kong Koan).

Oey mempunyai empat orang anak. Yang pertama seorang putri, telah dinikahkan dengan putra bupati Pekalongan, yang kelak akan menggantikan ayahnya.

2. Become a ‘Leutenant’ in a short time.

After the auction Oey was approached by Major Tan Eng Goan, one of the leading Chinese community leaders in Batavia at that time. The major asked to go him home in his horse-cart. The friendship between the two increases Oey's prestige in the eyes of the Chinese community. Once Tan proposed to the Dutch government for Oey to be appointed as lieutenant and member of the Chinese Council (Kong Koan).

Oey had four children. The first was a daughter, married to the son of the Pekalongan’s regent, who would later succeed his father.

1. Playboy Batavia yang tewas di tiang gantungan

Bagi orang yang lahir di Jakarta jaman dulu, nama itu sudah sangat dikenal. Bukan karena uangnya saja, tetapi ulahnya yang membuat orang tua gadis-gadis cantik khawatir setengah mati. Namun akhirnya Oey Tambahsia kena batunya juga.

Pada tahun 1837, Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai. Toko tembakau terbesar di jalan itu milik seorang pedagang besar Tionghoa asal Pekalongan, bernama Oey Thoa. Meskipun belum lama menetap di Betawi, Oey sudah cukup terkenal. Bukan saja karena kebesaran usahanya, tetapi juga kedermawanannya.

1. Batavia Playboy Who Died on The Gallows

For people born in old Jakarta, the name Oey Tambahsia was already very well known. Not because of his richness, but his attitute that made all parents of beautiful girls half-dead worrying. But finally Oey Tambahsia hit the stone as well.

In 1837, Toko Tiga Street in Jakarta Kota was a bustling commercial center. The largest tobacco shop on the street belonged to a large Chinese merchant from Pekalongan, named Oey Thoa. Although not long ago settled in Betawi, Oey was quite famous. Not only because of the success of his business, but also his generosity.

Oey Tambahsia (ID)

Pendahuluan

Batavia adalah kota yang penuh dengan kenangan. Umurnya yang tua, didirikan di paruh pertama abad 17, kota ini memiliki cerita sejarah yang pantas untuk di tulis kembali. Salah satunya adalah cerita tentang Oey Tambahsia yang sangat legendaris. Tulisan Siswadhi ini telah diterbitkan dalam majalah Intisari tahun 1984. Di dalam website Klikbatavia tulisan ini diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dengan baik supaya Sejarah Batavia diketahui oleh setiap orang.   

Oey Tambahsia

Introduction

Batavia is a city full of memories. Her old age, founded in the first half of the 17th century, has a long history that deserves to be rewritten. One of them is the story of Oey Tambahsia who is very legendary. This Siswadhi’s writing has been published in Intisari magazine in 1984 and 1988. In Klikbatavia this article is translated into English so that every one will know the history of Batavia or old Jakarta.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

Moenswijk boleh dikata rumah yang paling dekat dengan pinggiran sebelah selatan pada zaman itu. Sekitar gedung Tabungan Pos (BTN) dan Asrama CPM Jaga Monyet (sekarang Jl. Suryopranoto) terdapat pos penjagaan atau benteng kecil Rijs-wijk. Nama Jaga Monyet menumbuhkan dugaan bahwa kawasan di luar benteng seperti Harmoni, Petojo dan lain-lain masih hutan lebat berawa-rawa.

Moenswijk berasal dari nama pemilik pertamanya, Adriaan Moens, seorang Directeur Generaal VOC yang kaya-raya. Sayang tak banyak yang kita ketahui tentang riwayat rumah dan tanah seluas 22.000 m persegi ini.

2. Moenswijk

2. Moenswijk

By that time Moenswijk was the closest house to the south outskirts of the city. Around gedung Tabungan Pos (BTN) and CPM Dormitory Jaga Monyet or monkey (now Suryopranoto street) there is a checkpoint or a small fort Rijs-wijk. It was called Monkey because the area outside the fort like Harmony, Petojo and others still marshy dense forest.

Moenswijk derived from the name of its first owner, Adriaan Moens, a wealthy VOC Directeur Generaal. Unfortunately we know not much about the history of the house and the land area of 22,000 square meters.

Pages