Skip directly to content

Religion

Tahun Baru Imlek dan Almanak 2

Almanak tahunan dihitung berdasarkan kalender tradisional telah diproduksi oleh Biro Astronomi / Astrologi sejak zaman kuno, model klasik yang disebut perlengkapan Bulanan (Yueling). Pembuatan almanak adalah hak istimewa negara dan sangat penting, dimana Putra Langit (kaisar) akan menunjukkan kemampuannya membaca kosmos dan membawanya untuk mengatur kekaisaran. Almanak-almanak itu begitu berharga sehingga diangkut dalam tandu dan disambut dengan sujud sebelum didistribusikan ke pejabat tertinggi; serta versi yang lebih sederhana tersedia untuk umum.

Almanak - almanak ini tetap sangat populer

Chinese New Year and the Almanac 2

Yearly calculated almanacs based on the traditional calendar have been produced by the Bureau of Astronomy/Astrology since ancient times, modeled upon the classic called the Monthly Ordnances (Yueling). The making of the almanac was the privilege of state power and a crucial function, by which the Son of Heaven would show his ability to read the cosmos and bring order to the empire. The almanacs were so precious that they were transported in sedan chairs and greeted with prostrations before being distributed to the highest officials; more simple versions were available to the public.

These

Tahun Baru Imlek dan Almanak 1

Tahun Baru imlek adalah selalu menjadi momen penting dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Jakarta dan Pecinan Glodok pada khususnya. Menyambut Tahun Baru rumah-rumah dibersihkan dan di beri pernak-pernik berwarna merah sebagai symbol harapan Tahun yang Baru akan memberi keberuntungan. Menyambut tahun baru juga banyak ramalan-ramalan berdasarkan Shio seseorang. Tulisan ini bukan meramal keberuntungan anda, tetapi membahas soal Kalender Tionghoa dan almanac yang menjadi dasar dari ramalan tadi.

Dalam kalender Tiongkok kuno, waktu dibagi menjadi siklus yang dapat diprediksi.

Chinese New Year and the Almanac 1

Lunar New Year is always an important moment in the life of the Chinese community in Jakarta especially in the China Town Glodok. Welcoming the New Year houses are cleaned and given red baubles as a symbol of hope that the New Year will give luck. In this time there are too many fortune tellings based someone’s Shio (12 astrological animal). This paper is not to predict your fortune, but to discuss the Chinese calendar and almanac that became the basis of fortune-telling.

Calendars in ancient China, time was divided into a predictable cycle.

Seri ID 009

on Mon, 01/05/2015 - 10:25

Seperti ayahnya dia adalah Sinshe yang memberikan perhatiannya kepada orang miskin. Dia belajar menjadi sinshe dari ayahnya, selain itu juga belajar dari kitab-kitab pengobatan raja-raja. Bukan hanya pengobatan tusuk jarum yang dia kuasai tetapi ramuan-ramuan obat dari tumbuh-tumbuhan dan binatang yang diawetkan. Dengan sigap dia memeriksa pasien, mempelajari anatomi tubuh untuk kemudian diterapi dengan jarum ditusukkan pada bagian-bagian tubuh yang sakit untuk mendapatkan Chi atau nafas kehidupan.

Series EN 009

on Mon, 01/05/2015 - 10:23

Like his father Sinshe Tan was a sinshe who gave his attention to the poor. Besides he learned to be a sinshe from his father, he also learned from the books of the treatment of kings. Not only acupuncture he also learned drug ingredients from plants and preserved animals. Deftly he examined the patient, studied the anatomy and then treated with needles inserted in the sick parts of the body to get Chi or the breath of life. In traditional Chinese medicine, the principle of healing with acupuncture was needling at Chi points spread throughout the body.

Budaya Orang Batavia

Batavia adalah tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibawa oleh Belanda dan ethik Eropa lainnya, sementara itu kebudayaan Timur dibawa oleh orang Tionghoa, orang Arab, orang India serta kelompok etnik lain di Nusantara.

Di abad ke 17, di dalam tembok kota tinggal orang Belanda, orang Tionghoa dan para budaknya. Mereka hidup dengan mewah sejalan dengan kotanya yang makmur. Kemewahan itu dapat dilihat dari lukisan kuno  di mana tuan dan nonya berpakaian rapi, di temani budak-budaknya di belakang sambil memegangi payung dan Alkitab, pergi ke gereja.

Di Batavia jaman

The Culture of Batavian

Batavia was a meeting point between the Western culture and the Eastern culture. The western culture was brought by the Dutch, and other European ethnic groups, while the eastern culture was brought mostly by the Chinese, the Arab, the Indian and other ethnic groups in the archipelago.

In the 17th century, inside the town wall lived the Dutch, the Chinese and the slaves. They lived glamorously along the prosperity of the town.

Pages