Skip directly to content

1. Skenario Pertama

Teori arsitektur merupakan sebuah rumah sakit besar yang terdiri dari berbagai alat analisa yang tujuannya sama, mencari penyakit seseorang dan memberi pengobatan. Kondisi sosial masyakat yang sakit selalu dipandang dari segi sosial ekonomi tanpa melihat celah-celah yang merupakan satu kesatuan dari sistem peruangan. Dia adalah satu metoda untuk mencari jalan kembalinya memory yang rusak oleh perubahan.2)

Teori arsitektur adalah latar penyembuhan ingatan yang hilang karena tekanan politik. Karena itu Arsitektur adalah puing-puing bangunan yang mengisi ruang kota selama berabad-abad dan tinggal di dalam ingatan manusia, kecuali perkampungan etnik Cina yang memang dibersihkan dari pandangan mata orde baru. Pada saat memori akan kota dihapus dan manusia kehilangan sejarahnya, teori arsitektur sebagai cara menginterpretasi satu lingkungan menjadi bermakna, karena hanya melalui disiplin inilah kota sebagai tubuh yang berjiwa dapat dipahami dan dimengerti rohnya.3)

Dengan dilebarkannya jalan-jalan di Jakarta, dan diremajakannya berbagai area pertokoan tua, sebenarnya telah terjadi "architectural Murder in Batavia". Batavia telah dibunuh dan diganti Jakarta yang sangat deterministik: ditentukan oleh modal dan kekuatan politik yang tidak beretika lagi.

Selaras dengan itu, arsitektur bukan pula tembok Berlin yang dibangun untuk memisahkan manusia dari cinta kasih. Arsitektur menjadi ruang kosong yang ditimbulkan oleh adanya tembok ini, sebagai fragmen narasi sejarah manusia yang tercecer dan menunggu reinterpretasi.4) Arsitektur adalah rumah-rumah tua Lasem yang tercecer dari arus besar sejarah Indonesia, dilupakan, dan tidak digubris oleh kemajuan jaman.

Dari sudut pandang arsitektur, kota adalah satu narasi sejarah kebudayaan yang panjang. Fragment bangunan dan artefak menjadi paragraph yang merupakan satu cerita tentang peradaban manusia dimana kota tadi tumbuh, bersenyawa dan bernyawa. Bahkan puing-puing kota pun memiliki peran dalam satu narasi yang memerlukan interpretasi untuk satu deskripsi yang demikian kaya. Karena itu, arsitektur menjadikan kota sebuah novel, yang berbeda dengan yang di beli di toko buku yang mana pembaca tinggal mengikuti alur cerita, tetapi, kota merupakan novel yang pembacanya ikut membangun satu cerita. Walau selengkap apapun data yang ada, arsitektur sebagai artikulasi ruang, tetap menuntut interpretasi satu lingkungan hidup manusia sebagai habitat yang konstruktif.

2) Mengenai memori kolektif lihat Rossi 1982: 130

 

3) Mengenai arsitektur sebagai alat interpretasi lihat tulisan Robert Harbison tentang puing (Harbison: 1994: 99-130)

 

4) Lihat buku panduan pameran perlombaan arsitektur Potsdamer Platz

 

Tempat Sembahyang di Jalan Kemenangan
Tempat Sembahyang di Jalan Kemenangan