Skip directly to content

10. Cermin Kehidupan Batavia

Jalan di Kanal Macan adalah cermin kehidupan warga kota Batavia di abad 16 dan 17. Di kanal itu rumah-rumah orang Europa melampaui prestise rumah di kanal-kanal kota Batavia yang lain. Pohon-pohon dan rumah megah di bangun lebih unggul dari pada bagian kota yang lain. Posisinya membuat jalan ini arteri lalu lintas antara dua lapangan utama kota, alun-alun stadhuis- dan kastil. Dua Jalan yang mengapit Kanal Macan dua-duanya di bawah naungan pohon asam dan kenari.

Di sini orang menggunakan rompi putih, lengan panjang dan "celana nyamuk", di senja hari. Orang kebanyakan menggunakan pakaian malam sambil ngobrol dengan  tetangganya. Sambil duduk dengan tempolong perunggu untuk meludah, mereka berbicara dalam bahasa potugis bercampur melayu tentang resepsi orang-orang penting yang akan diadakan hari Senin. Di antara orang-orang itu ada seorang wanita ras Europa, dia belum lama datang dari Belanda,  dan belum mampu untuk memutuskan mengubah pakaian malam Europa dengan sarung dan kabaja.

Selain itu untuk rumah yang elegan tidak cukup hanya di jaga kebanyakan penjaga malam dari penduduk biasa. Bagi mereka yang duduk di dewan Hindia penjaga rumahnya haruslah serdadu yang harus membawakan hormat militer.

Di sini penjual cincao dan bakmi meletakkan dapur di sudut jalan, di mana dapur berminyak itu menjadi satu sekelompok dengan rumah para budak. Ketika rektor Sekolah Latin dijabat Drs. Augustinus pada tahun 1667, ada teriakan dari belakang salah satu rumah..... ampun-ampun! Seperti tokoh dari permainan tonil Van Hogendorp kraspoekoel tentang perbudakan. Seorang budak melakukan kesalahan yang kemudian dipukuli. Tapi tangisannya tenggelam oleh suara salah satu pasukan milisi Eropa, yang berpakaian seperti wisatawan Jerman Barchewitz dengan seragam kain biru bordiran emas, dengan bulu putih pada topinya, pistol kusir di sarungnya, karabin sepanjang pelana. Orang Tionghoa pedagang klontong, kuli orang Jawa dan madura, penjual air, budak laki dan budak perempuan dari seluruh Nusantara, berada di sisi kanal, ada yang duduk diam berjongkok di dermaga batu karang. Mereka memandang ke pasukan yang berjalan naik kuda mahal dari Persia atau Arab, kuda-kuda itu menarik kereta berlapis emas berisi anggota Dewan Hindia. Iring-iringan itu keluar ke jalan, didahului dengan para pelari yang dipersenjatai dengan bambu panjang untuk membuka jalan bagi iringan kereta, yang dikendalikan oleh kusir Eropa.

Di balik Kanal Macan, sampai ke kanal buaya, di Perairan kanal yang coklat itu budak-budak perempuan mandi, dengan sarung yang digunakan  sebagai kain penutup ketika mandi, dan memeras rambutnya yang hitam legam, mereka saling memerciki dengan riang. Kalau macan dan buaya sudah lama telah menghilang, tetapi “buaya darat” rakus, masih ada yang suka “memangsa” budak-budak ini.

Budak Perempuan Mandi di Kanal Buaya
Budak Perempuan Mandi di Kanal Buaya
Topic: