Skip directly to content

3. Skenario Ketiga

Teori arsitektur berkembang bukan di dunia praktisi yang sangat takut pada para pemilik modal, tetapi di dunia pendidikan sebagai satu keunggulan akademik yang membedakan antara sekolah arsitektur satu dengan yang lain. Setiap sekolah arsitektur berkembang berdasarkan kurikulum yang khas dan disusun menurut idealismenya. Mungkinkah ini terjadi di Indonesia?

Bangsa kita terlalu suka dengan seragam, bukan hanya seragam militer saja, tetapi juga gardu listrik, halte bis, pompa bensin, sampai dengan WC umum yang seragam, jurusan arsitekturpun harus tunduk oleh kurikulum nasional yang membuat semua jurusan arsitektur di Indonesia seragam dan mandul.

Seperti Gubernur yang suka seragam, para dosen arsitektur takut memilih "yang lain" diluar seragam yang diakui oleh pemerintah. Jangan lupa, Bauhaus pun dulu juga ditentang oleh tradisi pendidikan arsitektur yang kaku, tetapi terus maju dengan kelainannya.6) Adakah dosen yang berani memulai dengan "yang lain"? Mampukah  kita menerima yang berbeda? Jika tidak, perkembangan Teori arsitektur telah dibunuh oleh keseragaman kurikulum pendidikan arsitektur itu sendiri.

 

6) Lihat Whitford, 1993:30

 

 

Jalan dan Bangunan
Jalan dan Bangunan
Topic: