Skip directly to content

4. Skenario Terakhir.

Baik arsitektur modern, dari Post Modern sampai dengan Deconstruction semua berkembang karena mendapat dukungan institusi pendidikan. Decons berkembang karena AA (Architectural Association) yang menguasai jurnal-jurnal arsitektur di Inggris. Demikian pula arsitektur modern berkembang  karena di Eropa berkembang sebuah institusi Bauhaus dan majalah De Stijl. Bahkan, dukungan yang di lakukan di dalam Bauhaus mencari dasar-dasar ideologi yang menyebabkannya ditutup oleh Hitler karena dianggap kekiri-kirian dan para pengajarnya melarikan diri dari Jerman. Estetika di percayai berasal dari konsep-konsep ideologi. Bahkan Konstruktivis di Uni Soviet bergerak lebih jauh dengan mencoba menghilangkan pusat kota dan meratakan aktifitas ke daerah pedesaan. Stalin  memandang aliran ini dengan curiga dan melarangnya.7)

Arsitektur adalah ilmu politik praktis, arsitek tiada beda dengan politisi praktis yang pada kenyataannya harus lolos dari provokasi para kliennya.8) Walaupun arsitek berkecimpung di tatanan fisik tetapi tidak bisa lepas dari ideologi itu sendiri. Ingat Le corbusier pernah di tuding ke kiri-kirian dan harus membela diri dengan mengatakan bahwa "saya bukan politisi tetapi arsitek".9) Di dalam ideologi itulah teori arsitektur menemukan dasarnya jadi bukan hanya berkutat dengan bentuk-bentuk kotak atau bulat tetapi makna ideologis di balik bentuk tadi.

Di Indonesia belum pernah ada aliran seni yang dilarang, kecuali pelarangan publikasi hasil karya seni dari seorang seniman yang dimusuhi pemerintah. Demikian pula pelarangan lagu ngik-ngok di jaman orde lama sebagai perasaan anti terhadap imperialisme Barat tetapi bukan karena satu aliran seni seperti halnya Bauhaus di Jaman Hitler atau konstruktivis di jaman Stalin. Ini menunjukkan bahwa teori seni di Indonesia masih berada dipermukaan pada wujud yang dapat ditangkap panca indra seperti nada rock 'n roll di telinga atau nama Pramudya Ananta Toer di halaman depan sebuah buku. Teori seni belum berada pada falsafah atau pemikiran di balik wujud yang tertangkap panca indra. Teori arsitektur di Indonesia terhenti pada sebatas langgam dan belum mencapai dasar ideologi seperti arsitek Bauhaus dengan bangunan, lukisan serta desain produknya yang sarat dengan ideologi. Seorang seniman yang berkarya berdasarkan ideologi akan sangat militan mempertahankan ideologinya dan bukan mengikuti selera masyarakat, sebab ideologi menjadi arahan, atau “Tuhan“ dari karya-karya yang dihasilkan. Sebaliknya di Indonesia, seni menjadi selera konsumen, arsitek dan seniman lain mengikuti selera masyarakat. Arsitektur di kota-kota baru seperti real estate di Jakarta, kota wisata di Sentul dan sebagainya adalah realita bahwa seni didasari oleh marketing, selera publik yang diikuti. Benarkah publik suka dengan arsitektur seperti itu? Itupun belum pernah ada penelitian yang teruji selain kenyataan bahwa para penghuni tadi jika tidak memiliki pilihan lain, mereka adalah orang yang kurang pengetahuannya tentang seni itu sendiri. Jika ideologi adalah “Tuhan“ bagi arsitektur, maka di Indonesia arsitektur menjadi sangat ateis.

 

7) Kopp 1985: 144

8) Dalam pidato pengukuhannya, Prof Sandi Siregar mengatakan bahwa urban design adalah the most political science.

9) Lihat tulisan Le Corbusier Vers une Architecture: Architecture or Revolution (Lecorbusier 1976)

 

Karya Le Corbusier Kapel Notre Dame du Haut di Ronchamp selesai dibangun in 1954
Karya Le Corbusier Kapel Notre Dame du Haut di Ronchamp selesai dibangun in 1954