Skip directly to content

Art-Deco di Jakarta

Jakarta adalah kota dengan gaya arsitektur Art-Deco, demikian kata teman yang melihat gaya Art-Deco sebagai dominasi gaya bangunan di Jakarta tahun 1930an. Tetapi banyak orang Jakarta yang tidak tahu apa itu Art-Deco. Ada orang yang mendengar kata Art-Deco saja baru pertama kali. Bahkan ada juga mahasiswa arsitektur yang merasa asing dengan kata-kata Art-Deco. Ini semua dapat kita maklumi karena di sekolah mereka tidak pernah diajarkan tentang sejarah seni selain sejarah perjuangan dan perang. Itulah mengapa jika para preservasionist berteriak-teriak mengenai perlunya dipertahankan arsitektur Art-Deco, banyak orang yang tidak mengerti, yang dimaksud bangunan yang mana.

Bagi orang yang awam, barangkali akan merasa aneh dengan beberapa bangunan kuno di kota tua Jakarta yang muncul di sekitar tahun 1930an dengan gaya yang sangat dekoratif seperti Stasiun Kota, Musem Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, dan beberapa bangunan lain yang tampak demikian berbeda dari bangunan-bangunan tua seperti museum fatahilah dan toko merah, bekas tempat tinggal Gustaf Von Imhoff, gubernur jendral VOC yang dibangun abad 17 . Bangunan yang sangat dekoratif ini sangat simeteris, penuh lekukan-lekukan yang harus dikerjakan dengan teliti. Tidak ada data apakah tukangnya dari Jakarta atau  dari tempat lain, yang jelas bangunan berwarna putih itu disebut bergaya art-deco. Kalau Toko Merah di bangun dengan batu-bata, kayu, dan genteng yang merah, maka Stasiun Kota di bangun dengan konstruksi baja dan pada bagian kantor stasiun dengan konstruksi beton yang interiornya penuh bentuk-bentuk dekoratif berwarna putih. Di Museum Bank Indonesia interiornya juga penuh gaya decoratif bahkan mebel-mebelnya pun di bangun dengan penuh dekor, hiasan, ornament, seperti bangunannya,

Anehnya, bangunan-bangunan Art-Deco yang indah ini hampir tidak ditemukan di Belanda. Bahkan dari berbagai tulisan tentang arsitektur Art-Deco di seluruh dunia tidak didapat data ada bangunan bergaya Art-Deco di negeri kincir angin. Antara tahun 1917 dan 1931 yang berkembang di Belanda yang berkembang adalah gaya De Stijl yang minimalis dimana bangunan tidak memiliki dekorasi seperti halnya gaya arsityektur art-Deco. Dan sebaliknya pada periode waktu yang sama, gaya arsitektur De Stijl yang berkembang di Belanda tidak di temukan di Hindia Belanda.

Menjadi satu pertanyaan yang seharusnya di teliti secara mendalam dalam dalam tesis S2 atau disertasi S3 bagi mahasiswa seni: mengapa justru gaya bangunan Art-Deco yang berkembang di hindia Belanda? Apakah Hindia Belanda pada waktu itu mampu mengembangkan nilai-nilai seni yang sudah mapan sehingga tidak meniru arsitektur Belanda seperti yang pernah terjadi sebelumnya?

Sampai dengan 1925 Eropa memang penuh dengan experimen arsitektur seperti Bauhaus di Jerman dan De Stijl di Belanda dengan gaya yang se-irit mungkin sehingga bangunannya murah. Anehnya justru pada periode yang sama di bagian lain Eropa dan Amerika muncul seni decorative yang cenderung mahal harganya. Menurut sejarahnya Art-Deco muncul di Perancis setelah Perang Dunia I. Setelah Paris, Art-Deco muncul di berbagai belahan dunia. Di Hindia Belanda menjadi sebuah gaya yang ngetrend di tahun 1930an. Di Jakarta bukan hanya di kota lama, juga di Pasar Baru baik berupa pertokoan di sepanjang Jalan Pasar Baru, ataupun perkantoran di tepi Kali Ciliwung.

Kalau kita amati secara teliti, seni decoratif ini sudah muncul bersama dengan Koloniale Tentoonsteling, Pameran Kolonial yang terbesar di Asia, 1914 di Semarang yang di rancang oleh Maclaine Pont.  Dia didalam merancang Koloniale Tentoonstelling banyak di pengaruhi oleh World Expo 1893 di Chicago yang dia kunjungi dalam perjalanan ke Belanda. Padahal arsitektur World expo itu menurut Patricia Bayer juga mempengaruhi Art-Deco yang berkembang seperempat abad kemudian di Eropa dan Amerika. Sayang Koloniale Tentoonstelling sudah tidah ada bekas-bekasnya kecuali foto-fotonya.

Art deco sebenarmya mengisi ruang di Batavia Kuno yang pada waktu itu setengah hancur karena di bongkar oleh Daendels. Tetapi bangunan baru itu tidak menghapus sama sekali bangunan lama, seperti di Musem Bank Indonesia ternyata masih menyisakan bangunan lama yang dulu adalah rumah sakit Batavia. Kita dapat menemukan bangunan peninggalan rumah sakit di bagian belakang kompleks Museum dengan melihat bentuk atapnya yang mirip dengan atap Toko Merah, gaya arsitektur klasik.

Terlepas dari senang atau tidak, Art-Deco di Jakarta telah membentuk langgam yang solid dalam sejarah arsitektur kota karena bukan hanya di kota lama juga di bagian kota yang lain. Untuk kepentingan pariwisata seharusnya bangunan-bangunan Art-Deco direvitalisasi karena banyak yang hancur. Sehingga bangunan-bangunan ini memberi intonasi arsitektur kota, dimana Jakarta adalah perkawinan antara gaya arsitektur klasik dan Art-Deco.

Interior Museum Bank Indonesia
Interior Museum Bank Indonesia