Skip directly to content

Budaya Orang Batavia

Batavia adalah tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibawa oleh Belanda dan ethik Eropa lainnya, sementara itu kebudayaan Timur dibawa oleh orang Tionghoa, orang Arab, orang India serta kelompok etnik lain di Nusantara.

Di abad ke 17, di dalam tembok kota tinggal orang Belanda, orang Tionghoa dan para budaknya. Mereka hidup dengan mewah sejalan dengan kotanya yang makmur. Kemewahan itu dapat dilihat dari lukisan kuno  di mana tuan dan nonya berpakaian rapi, di temani budak-budaknya di belakang sambil memegangi payung dan Alkitab, pergi ke gereja.

Di Batavia jaman itu, pemerintah hanya mengenal gereja Katolik. Karena itu hanya tiga gereja yang dibangun di dalam tembok kota: Gereja Belanda, Gereja Portugis dalam tembok kota, dan Gereja Portugis di luar tembok kota yang masih ada sampai sekarang. Gereja ini dinamai Gereja Sion, yang berlokasi di ujung Jalan Pangeran Jayakarta. Ada juga gereja Melayu yang terletak di rumah sakit Belanda, di Selatan kota. Tetapi, rumah sakit Belanda ini telah hilang.

Mengapa ada gereja portugis, sedang kita tahu bahwa Batavia di perintah oleh Belanda? Gereja portugis ini bukan dibangun oleh Portugis yang beragama Katolik. Pada waktu itu agama Katolik adalah agama terlarang di Batavia kuno. Gereja Portugis ini juga gereja Protestan dan dibangun oleh Belanda. Gereja ini untuk para budak yang dibawa dari India dan berbahasa Portugis. Setelah tiba di Batavia, mereka dipaksa berpindah ke agama Protestan dan pemerintah membangun dua gereja protestan untuk mereka.

Didepan Gereja Belanda

Selain gereja Protestan, ada juga kelenteng orang Tionghoa yang semuanya dibangun di luar tembok kota. Kelenteng terbesar adalah Jin De Yuan di Petak Sembilan. Tetapi dalam kerusuhan 1740 semua kelenteng di bakar habis. Hanya kelenteng Jin De Yuan yang dibangun kembali dan tempat disekitarnya dikenal dengan nama Glodok.

Kelompok etnik lain yang tinggal di Batavia adalah orang Bali. Mereka datang ke Batavia sebagai pedagang atau ada juga yang menjadi budak. Karena mereka beragama Hindu, dengan mudah dapat hidup diantara orang Tionghoa. Hampir semua orang Tionghoa menikah dengan perempuan Bali karena pada waktu itu tidak ada perempuan Tionghoa.

Disamping kelompok – kelompok etnik itu, Batavia menjadi tempat berdagang tekstil yang menarik bagi para pedagang dari India. Walaupun jumlah mereka kecil, mereka ikut serta mewarnai Batavia. Sekarang pedagang tekstil dari India banyak yang tinggal di Pasar Baru. Mereka berdagang disana bersama-sama orang Tionghoa.

Jangan dilupakan bahwa Batavia juga rumah bagi orang Arab. Mereka tinggal di Pekojan dengan masjid tuanya di Kampung Moor. Pekojan adalah nama untuk orang Koja, para pendatang dari Gujarat. Menurut De Haan, juga digunakan untuk menyebut orang dari Coromandel dan Gujarat.

Sekarang, disamping orang Tionghoa yang tinggal di Glodok, berbagai budaya Batavia menjadi warisan budaya masyarakat Betawi, yang disebut penduduk asli Jakarta. Kebudayaan mereka adalah campuran dari berbagai etnik yang tinggal di Batavia dan sekitarnya. Namun sekarang mereka kebanyakan tinggal di pingir Jakarta.

Semua itu merepresentasikan kebudayaan Jakarta Modern.

 

 

 

Sion church at the end of Pangeran Jayakarta Street
Gereja Sion di ujung Jalan Pangeran Jayakarta