Skip directly to content

Kehancuran Batavia Lama

Beberapa penulis yang pernah mengunjungi dan tinggal di Batavia menuliskan kesan-kesan mereka, baik tentang kehancuran Batavia setelah Daendels menjadi gubernur jenderal, maupun catatan tentang pinggiran Batavia setelah tembok kota di rumtuhkan sampai dengan tulisan tentang pariwisata di kota lama Batavia.

Sebelum Daendels datang Batavia mengalami kerusakan ekologi. Tetapi kerusakan ini tidak dapat disalahkan pada disain kota atau pada gempa bumi. Blusse menulis sebagai berikut:

Masalah yang mendasari kematian Batavia - transformasi dari sebuah kota yang sehat ke dalam kuburan - tidak harus dicari terutama dalam tata letak Belanda kota atau bencana alam. Mereka harus dicari di Ommelanden, pedalaman kota. Pengembangan kota yang cepat dan tidak terencana di Ommelanden untuk budidaya gula, diikuti oleh krisis ekspor produk ini, mengakibatkan perubahan dalam sistem irigasi dan akhirnya mengganggu keseimbangan ekologi (Blusse, 1986: 17 ).

Tentang kehancuran Batavia, seorang pelancong Couperus yang mengunjungi Batavia pada tahun 1815 mengatakan:

"Jalan ini dulu adalah Tijgergracht yang indah, tapi semua bangunan-bangunan yang mengapit kanal ini dan Prinsenstraat telah rata dengan tanah. Siapa yang akan mengenalinya sebagai Tijgergracht, yang dipuja Valentijn pada tahun 1726, hanya delapan puluh tahun sebelumnya, sebagai berikut: 'Tijgergracht memiliki bangunan seragam yang indah, yang paling indah di kota. Keindahan kanal yang lurus, dengan tanaman yang elegan ini melampaui apa yang pernah saya lihat di Belanda. Meskipun orang dapat menemukan istana yang lebih indah atau kanal yang lebih lebar di sepanjang Heerengracht di Amsterdam atau di tempat lain, namun semua kanal dan jalan-jalan ini tidak akan sama dan menyenangkan dimata seperti pemandangan  kanal di Batavia [. . . ) ."Setelah mengoceh untuk sementara tentang kemegahan hilang dari kota, Couperus menyimpulkan: "migrasi dari negara-negara Eropa, jika saya bisa mengatakan seperti itu, tentu saja mengakibatkan munculnya pemukiman baru di tempat lain, yaitu daerah yang lebih tinggi Rijswijk, Noordwijk dan Weltevreden "(Blusse, 1986: 15).

Setelah pusat kotanya di pindahkan ke Weltevreden, Batavia lama hancur, tetapi dari abad ke-19, Jakarta telah berkembang sangat cepat. Pemukiman Tionghos di Senen dan Jatinegara telah menjadi pusat perkotaan baru. Namun, Batavia menghadapi bencana ekologis yang besar karena pembangunan di pedalaman yang tak terkendali.

Menurut Ong Tae hae, seorang musafir Tionghoa pada pertengahan abad ke-19, berbeda dengan daerah yang padat di kota, rumah-rumah di Kampung memiliki taman, dan bahkan di desa-desa - ia mungkin mengartikan pinggiran kota, ada rumah Belanda dan taman. Menurut dia di pinggiran kota, ada paviliun musim panas, galeri, jembatan, dan teras yang begitu elegan dan indah. Kehidupan perkotaan di ibu kota ini juga digambarkan sebagai seminggu sekali orang pergi ke tempat ibadah, maksudnya gereja.

Ada buku-buku untuk pariwisata tentang Jakarta  salah satunya karya Maya Jayapal yang menulis "Old Jakarta". Selain buku ini sangat informatif untuk pariwisata penulis mencoba untuk menyajikan sosok lengkap Jakarta tua dengan menyusun karya ilmiah dan sejarah kota ini. Buku "Old Jakarta" tidak menceritakan kehidupan Batavia yang mengesankan tetapi terjebak ke dalam sejarah politik kota ini. Oleh karena itu, kisah Tionghoa diceritakan dalam urutan tragedi 1740 yang telah diceritakan oleh penulis lain.

Buku Jayapal pada umumnya adalah menulis sebuah kota yang telah hilang selamanya. Bangunan - bangunan yang ia sebutkan dalam sejarah kota lama Jakarta sudah tidak ada lagi, hanya beberapa bangunan yang masih ada dengan lingkungan yang sama sekali berbeda. Old Jakarta sudah hilang selamanya tanpa ingatan apapun kecuali dalam buku seperti karya Jayapal ini.

Jatinegara 1941
Jatinegara in 1941