Skip directly to content

Kemacetan Lalu-Lintas di Jakarta

Pusat Kota Amsterdam
Pusat Kota Amsterdam yang Tidak Macet Seperti Jakarta

Pendahuluan

Jakarta adalah kota yang lalu-lintasnya macet. Bahkan di tengah malam pun lalu-lintasnya belum lancar. Itulah yang membuat kota ini tidak nyaman untuk di huni. Apalagi pada waktu pulang kantor di hari Jumat atau hari sebelum libur panjang, kemacetan terjadi diseluruh kota. Pada saat kemacetan parah ini mobil sama sekali tidak dapat bergerak, orang seakan pasrah untuk bisa mencapai tujuan kapan saja. Dari pada terjebak kemacetan lalu-lintas sopir bajaj dan taxi memilih istirahat, bermain kartu dengan temannya. Polisi pun tidak terlihat lagi karena tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurai kemacetan ini.

Macet dimana-mana

Kemacetan lalu lintas bukan hanya terjadi di jalan-jalan besar yang penuh dengan perkantoran, tetapi juga melanda area permukiman seperti di jalan lautze Jakarta Pusat, atau jalan-jalan lingkungan permukiman di Kebayoran Baru. Sehingga penghuni permukiman lebih memilih untuk diam di rumah, menghindari pertemuan dengan teman diluar rumah. Bukan hanya mobil, kemacetan juga dialami sepeda motor walaupun dengan badan kendaraan yang kecil dapat menelisip diantara mobil yang berhenti. Saking banyaknya sepeda motor yang menelisip akhirnya macet juga. Sehingga untuk menghindari kemacetan, banyak orang memilih masuk kantor siang dan pulang setelah jam 12 malam.

Kemacetan di Jakarta memang sudah sangat parah. Bayangkan, dari Kali Malang ke Hotel Grand Kemang yang jarak lurusnya hanya  12 km dan seharusnya dapat ditempuh dalam 20 menit, terpaksa di tempuh 4 Jam. Kemacetan total menyebabkan jarak tempuh dari ujung Jalan Lautze ke Kartini II di Jakarta pusat yang kalau tidak macet di tempuh dalam 5 menit, terpaksa ditempuh 1 jam. Lima belas tahun yang lalu sepanjang Jalan Prapanca di sore hari memang sudah macet, tetapi tidak separah sekarang. Walaupun di atas jalan sudah dibangun jalan layang, arus lalu lintas masih juga macet dan lebih parah dari lima belas tahun yang lalu. Dalam satu setengah dekade terasa sekali Jakarta semakin penuh dengan kendaraan bermotor baik mobil ataupun sepeda motor. Satu keluarga di Jakarta sekarang tidak hanya punya satu mobil, tetapi tiga mobil, satu mobil untuk mengantar anak sekolah di Pasar Minggu, satu mobil lagi untuk bapak yang bekerja di Jalan Jendral Sudirman, dan satu mobil lagi untuk ibu yang juga bekerja di Kelapa Gading sedang mereka tinggal di Cawang.

Anehnya dalam kemacetan yang sangat parah ini masih saja ada mobil pejabat yang lewat dengan Voorrijder dan memaksa mobil lain minggir memberi jalan bagi mobil sang pejabat. Azas bahwa semua orang memiliki tingkat kepentingan yang sama tidak berlaku lagi. Sang pejabat lupa bahwa dia dengan voorijdernya dapat bergerak cepat, tapi jalan yang dia lewati bertambah macet.     

Mengapa Macet?

Mengapa Jakarta macet dan apakah strategi yang selama ini diterapkan untuk mengatasi masalah ini berhasil? “Three In One” (satu mobil tiga penumpang) yang sudah sejak lama di berlakukan di jalan-jalan utama seperti Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin pada pagi dan sore hari saat orang pulang kantor, sekarang sama saja macetnya dengan waktu di luar Three In One. Dibangunnya banyak jalan layang adalah salah satu cara untuk memecahkan masalah ini. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa cara ini berhasil. Diadakannya Busway adalah cara untuk mengatasi kemacetan ini, tetapi justru busnya ikut terjebak macet karena peraturan bahwa jalurnya harus steril dari kendaraan lain ternyata dilanggar, banyak kendaraan lain yang masuk ke jalur busway.

Kalau sekarang sedang di bangun subway, apakah akan memecahkan masalah ini? Jawabnya mungkin juga sama seperti ketika busway akan dibangun dulu, prediksi bahwa kemacetan lalu-lintas akan berkurang salah, Bukannya penduduk Jakarta tidak bersedia naik busway, buktinya selalu penuh dan padat di jam puncak, tetapi memang mobil yang turun ke jalan jumlahnya terlalu besar. Demikian pula dengan kereta commuter baik yang ke Bekasi, Bogor, Tangerang, ataupun Serpong selalu penuh, bahkan di jam puncak harus berdiri berdesakan di dalam gerbong kereta. Walaupun demikian jalan ke bogor pun tetap macet sehingga bis bandara yang jika di pagi hari pukul 3.00 pagi dari bogor ke bandara dapat di tempuh dalan 1 Jam, di sore hari bisa 5 jam.

Karena kemacetan itulah ada website dan radio yang menginformasikan titik kemacetan sehingga orang dapat menghindari jalan yang macet dan mencari jalan alternatif yang lain. Namun semua informasi ini tidak ada gunanya jika seluruh jalan di Jakarta macet total dan orang mau tidak mau harus menghibur diri dengan radio sambil menunggu antrean mobil yang tidak bergerak. Kota yang di bangun dengan kanal-kanal yang indah abad ke 17 sekarang telah berubah menjadi raksasa kemacetan yang mengerikan.

Terpusat di Jakarta

Kembali ke pertanyaan tadi, mengapa kemacetan lalu-lintas di Jakarta tidak hanya di jalan-jalan utama   tetapi di jalan lingkungan, bukan hanya di pusat kota tetapi juga di pinggir kota? Orang boleh menyalahkan transportasi umum yang kurang, tetapi itu hanya punya andil kira-kira 20% dari kemacetan lalu lintas di Jakarta sehingga jika subway selesai di bangun-pun juga tetap macet. Kalau bukan karena angkutan umum, terus masalahnya apa?

Dari semenjak kemerdekaan pembangunan di Indonesia terpusat di Jakarta. Sekarang juga demikian. Lihat, semua kantor pusat setiap perusahaan ada di Jakarta. Semua kegiatan industri berada di sekitar Jakarta dan kantor pusatnya di Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Seakan Indonesia yang demikian luas dan memiliki ribuan kota ini tidak punya tempat lagi selain Jakarta untuk pusat industri dan perkantoran.

Karena pusat Indonesia adalah Jakarta, maka teori urbanisasi berlaku, penduduk Jakarta bertambah. Karena penduduk bertambah maka tumbuh ratusan mall di Kota ini. Mall terbesar di dunia dan termewah ada di Jakarta. Selain mall juga terdapat ratusan apartemen dan rumah susun yang tidak diatur secara rinci lokasinya. Bandara terbesar di Indonesia terletak di Cengkareng di dekat Jakarta. Pelabuhan terbesar di Indonesia adalah Tanjung Priok di Jakarta Utara. Akibatnya karena semua terkumpul di Jakarta, kemacetan lalu-lintas terjadi.

Negara-negara di Eropa seperti Jerman dan Belanda, kegiatan ekonominya tidak terpusat di satu tempat. Berlin adalah ibukota Jerman, tetapi tidak semua kantor pusat berada disitu, lihat saja Mercedes Benz berkantor pusat di kota Stuttgart, bandara terbesar berada di Frankfurt yang jauh dari Berlin. Semua kantor-kantor pusat tersebar secara merata di seluruh negara, tidak membebani satu kota saja.

Lebih dari itu ruang kota juga diatur lebih baik. Di pusat kota Leuven, Belgia, di atur agar tidak dibangun pencakar langit, tetapi pencakar langit hanya diperbolehkan dibangun di luar jalan lingkar. Amsterdam yang dulu menjadi tiruan Batavia, kota lama Jakarta, pusat kotanya di kota lama yang di lestarikan dan hampir semua jalan menjadi tempat pejalan kaki.       

Pernah pula diwacanakan agar pemerintah pusat pindah ke Palangka Raya sehingga mengurangi beban kemacetan di Jakarta. Andaikan itu terjadi Jakarta tetap saja macet karena penduduk Jakarta belum tentu bersedia pindah ke Palangka Raya sebab tidak ada hubungan langsung antara institusi pemerintah dengan swasta apa lagi di negara demokrasi.

Perencanaan Ruang Nasional

Untuk mengurangi kemacetan di Jakarta sangat berhubungan dengan perencanaan secara nasional. Merencanakan kota-kota di suatu negara tidak boleh terpusat di kota tertentu seperti Jakarta. Untuk itu pemerintah harus mampu menumbuhkan magnet-magnet pertumbuhan di tempat Lain. Program Presiden Jokowi yaitu membangun berbagai kota di perbatasan negara, secara tidak langsung akan mengurangi kemacetan lalu-lintas di Jakarta. Jika kota-kota perbatasan negara ini dapat tumbuh dan berbagai industri dan kantor pusatnya pindah kesini dari Jakarta, maka kemacetan di Jakarta akan berkurang dan kotanya lebih nyaman. Memang ini perencanaan jangka panjang tetapi harus dimulai dari sekarang.

Jerman, Belanda dan negara-negara lain di Eropa adalah negara kecil, sedang Indonesia adalah negara besar yang terbagi dalam tiga wilayah waktu. Namun semua kegiatan baik ekonomi dan sosial seperti pendidikan dan rekreasi terpusat di Jakarta, sehingga semakin lama kemacetan lalu-lintas di kota ini semakin parah. Untuk mengurangi keterpusatan di Jakarta pemerintah harus merubah total tata laksana Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) sehingga kota-kota yang menjadi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dapat berfungsi dengan baik. Hal ini harus di iringi dengan pembangunan infrastruktur jangka panjang. Secara keseluruhan RTRWN harus direncanakan ulang karena selama ini hanya sebatas perencanaan diatas kertas dan tidak dapat di laksanakan.

Jika kota diibaratkan tubuh manusia dan lalu-lintas yang diumpamakan peredaran darah mengalami gangguan, tubuh menjadi sakit. Sakitnya tubuh bisa karena faktor luar seperti lingkungan di mana manusia itu hidup. Demikian juga, kota juga akan mengalami gangguan dan tidak nyaman dihuni jika negara di mana kota itu berada sakit karena secara keruangan tidak diatur dengan baik. 

Mungkin anda akan mengatakan bahwa hubungan antara kemacetan suatu kota dan perencanaan ruang negara terlalu jauh. Tetapi, Jakarta tidak akan bebas dari kemacetan lalu-lintas sebelum tata ruang Indonesia diatur dengan baik.