Skip directly to content

Kerusuhan 1740

Orang Tionghoa di Asia Tenggara menguasai perdagangan telah ditunjukkan dengan jung-jung mereka yang mendarat di pantai Pulau Jawa. Disertasi Blusse memiliki presentasi lengkap dalam kasus Batavia dan pasangannya Amoy di Tiongkok Selatan. Junk-junk tersebut yang mendarat di pantai Jawa Tengah dan Jawa Timur mungkin tidak berbeda dengan junk-junk yang mendarat di Batavia. Akibat dari pembunuhan orang Tionghoa tahun 1740 di Batavia, orang Tionghoa melarikan diri dan mencari perlindungan pada permukiman-permukiman Tionghoa lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampaknya adalah, mereka membawa perubahan politik di seluruh Pulau Jawa. Pembunuhan masal ini menimbulkan perang antara orang Tionghoa yang dibantu para pangeran Jawa melawan Belanda. Johannes Theodorus Vermulen menulis tentang orang Tionghoa dalam tragedy 1740 di Batavia. Dia mengkonstruksi proses terjadinya kerusahan, perubahan kota dengan latar belakang sejarah pembunuhan. Tulisan itu menganalisa pandangan politik dan dengan jelas menunjukkan kondisi sosial kota pada saat itu. OrangTionghoa yang tinggal di dalam tembok Batavia yang tidak terlibat pemberotakan, menjadi korban. Orang Belanda menyerang rumah dan rumah sakit Tionghoa, membakar permukiman meraka yang berada di sebelah Barat Kali Besar, Roa Malaka (Vermeulen 1938: 76).

Pemberotakan ini meluas sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Semarang orang Tionghoa di bunuh olah pangeran Madura yang bekerja sama dengan Belanda. Dengan mengamati peta tua Semarang, ternyata benar bahwa pada saat itu permukiman Tionghoa di sebelah Timur Kali Semarang dibakar dan mereka di pindah ke Pecinan di sebelah Barat. Di Gresik sekitar 400 orang Tionghoa juga dibunuh (Vermeulen 1938: 88).

Tulisan Leonard Blusse tentang orang Tionghoa menunjukkan bahwa tanpa orang-orang ini Batavia dan kota-kota lain mungkin tidak pernah berdiri. Bukan hanya Konstruksi bangunan dan infrastrukturnya di kontrakkan oleh Belanda kepada orang Tionghoa, tetapi mereka juga memegang semua bagian ekonomi kota di mana kehidupan perkotaan harus berdiri diatasnya.

Tesis Blusse tentang orang Tionghoa di awal Batavia memperlihatkan bahwa orang Tionghoa merupakan mayoritas dari penduduk kota. Karena orang pribumi Batavia telah melarikan diri ke Banten, yang ada hanyalah orang Belanda dan kelompok minoritas yang lain. Orang Belanda yang datang ke Batavia tidak ingin tinggal disini seumur hidup. Setelah mengumpulkan banyak uang mereka pulang ke Eropa. Sebaliknya orang – orang Tionghoa tetap tinggal dan menikah dengan orang Bali yang menjadi budak dan membangun keluarga disini. Karena itu Blusse menyebut Batavia sebagai kota koloni orang Tionghoa (Blusse 1986: 80-81). Bukan hanya di dalam tembok kota orang Tionghoa memiliki peran dalam pembangunan, di luar tembuk kota orang Tionghoa merintis pembukaan lahan pertanian.

Di samping peran orang Tionghoa dalam pembangunan kota, mereka juga berperan di daerah pedesaan. Pada awal abad ke 17 mereka membuka perkebunan tebu diluar tembok kota Batavia. Menurut Blusse ada 79 orang Tionghoa, 4 orang Belanda, dan satu orang Jawa sebagai enterprener di ommelanden (luar kota) Batavia. Menurut Blusse ada juga orang Tionghoa yang tidak ingin mendarat di Batavia untuk menghindari quota yang diterapan Belanda. Mereka mendarat di kota lain di pantai utara Jawa. Setelah 1740 Belanda menempatkan mereka di kamp Pecinan Glodok.

Sejarah pembantaian orang tinghoa tahun 1740 menginspirasi Novel “Matahari di Atas Batavia yang ditulis Chen Ming-Sien untuk diterbitkan di website ini.

Chinese Messacre infront of city hall of Batavia old Jakarta
Kerusuhan 1740 di depan balai kota