Skip directly to content

Mega Urbanisasi di Jakarta 2

Pasar Baru
Pasar Baru

Saat ini sudah lebih dari 80 pusat perbelanjaan di Jakarta. Mereka diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok; dari pusat perbelanjaan khusus menjual telepon seluler seperti Roxy Mas, sampai Dusit mal dan Mangga Dua Mal yang mengkhususkan diri dalam menjual komputer. Ada mal yang tidak mengkhususkan diri dalam menjual barang tertentu seperti Taman Anggrek Mal, ia memiliki berbagai atraksi dari es skating, pameran, bioskop dan hiburan musik bagi pengunjung mereka di lantai dasar. Pasar lama seperti Pasar Pagi Mangga Dua dan Pasar Tanah Abang mengkhususkan diri pada pakaian. Mereka mungkin pasar grosir terbesar di Asia Tenggara di mana pedagang dari seluruh penjuru Nusantara datang dan berbelanja. Ketika Pasar Tanah Abang kebakaran pada pertengahan Februari 2003, banyak kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pakaian di Indonesia berhenti. Ada 1,3 juta orang kehilangan pekerjaan dan empat triliun Rupiah musnah bersama dengan api (Kompas 22 Februari 2003, headline).

Selain klasifikasi fungsional, pasar dapat diklasifikasikan ke dalam kelas ekonomi pengunjungnya. Plaza Indonesia adalah mal di mana pengunjungnya adalah orang-orang berpenghasilan menengah dan tinggi. Kebanyakan dari mereka datang dengan mobil maka mal menyediakan lebih lantai untuk mobil daripada toko-toko. Parkir merupakan salah satu pendapatan utama mal. Di sisi lain mal di Jatinegara dan Plasa Atrium di Segitiga Senen adalah mal bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah. Plasa Senayan dan Sogo di jalan Thamrin terkenal sebagai mal di mana aktor dan aktris terkenal belanja. Mal seperti Mal Kelapa Gading, Mall of Indonesia, Central Park Mall, terutama dikunjungi oleh kelas atas. Di sisi lain mal seperti Roxy Mas dan Mangga Dua mal yang dikunjungi oleh berbagai kelas ekonomi.

Jakarta memiliki mal raksasa, mungkin yang terbesar di dunia. Misalnya Mal Kelapa Gading di Jakarta Timur menyediakan 200.000 meter persegi lantai bangunan dan mengambil area seluas 45 ha, seluas kota kecil di Indonesia. Tidak hanya itu, banyak mal di Jakarta utara yang terhubung satu sama lain. Anda dapat berjalan melalui jembatan belanja menghubungkan dari Pasar Pagi Mangga Dua ke Orion Mangga Dua Mall, dan Dusit Mangga Dua Mall, melintasi Jalan Mangga Dua, berbelanja dari jam  10:00 pagi hingga Jam 18:00 sore.

Lokasi pasar yang ramai telah menciptakan masalah transportasi perkotaan. Transportasi perkotaan yang didominasi oleh bus, baik khusus "bus way" dan non "bus way", yang tidak bekerja dengan baik. Sementara itu transportasi kereta api yang menghubungkan Jakarta ke daerah pinggiran kota, digunakan oleh masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah, sudah kelebihan beban pada jam puncak. Karena MRT masih dalam pembangunan, lebih banyak orang menggunakan mobil pribadi untuk pergi bekerja. Saat ini pemerintah kota mencoba untuk meminimalkan kemacetan lalu lintas dengan menerapkan peraturan bahwa mobil dengan nomor polisi yang ganjil dapat lewat Thamrin-Sudirman di tanggal ganjil, dan demikian pula mobil dengan nomor polisi genap boleh melewati jalan itu pada tanggal genap.

Berbeda dengan mal dan pusat pebelanjaan mewah, pasar tradisional tetap masih ada di Jakarta. Di Glodok, Pasar Baru, Pasar Senen, dan Blok M, pedagang menduduki trotoar dan membuat jalan menjadi sempit. megaurbanisasi dan kegagalan pemerintah untuk memberikan lapangan kerja telah memaksa orang untuk berdagang di kaki lima dan bukan bekerja di sektor formal.

Berjalan-jalan di mall adalah sebuah kebiasaan baru untuk orang Indonesia karena banyak ruang luar telah berubah untuk parkir dan kemacetan lalu lintas. Selain itu, pusat-pusat perbelanjaan yang dijaga oleh satpam memberikan perasaan aman bagi para pengunjung. Mereka berjalan di mal seolah-olah berjalan di  kaki lima tempo doeloe. Berbelanja mungkin lokus Jakarta. Ini adalah kehidupan hedonisme masyarakat sejak lama.

Bisakah kita membangun teori baru desain perkotaan berdasarkan fenomena di Jakarta? Apakah arsitektur modern seperti “kota Radian” nya Le Corbusier atau “Kota Ideal” nya Ludwig Hilberseimer dapat diwujudkan secara tidak sengaja dan dalam ruang yang kacau? Apakah mungkin kota tua menjadi daerah perbelanjaan baru seperti di kota-kota dunia lainnya. Kami masih berharap mimpi ini menjadi kenyataan.