Skip directly to content

Mega-urbanization di Jakarta 1

Pasar Glodok
Pasar Glodok

Mega-urbanisasi di Jakarta adalah akumulasi beberapa aspek, berkisar dari transportasi perkotaan yang berat sampai jumlah penduduk perkotaan yang sudah lebih dari 10 juta orang di malam hari. Bahkan pada siang hari melebihi 12 juta orang karena banyak komuter tinggal di Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor datang untuk bekerja di kota ini. Daerah perkotaan tumbuh ke ukuran raksasa yang mencaplok kota-kota kecil di sekitarnya menjadi Jabodetabek. Salah satu aspek yang baru-baru ini menjadi isu panas di Jakarta adalah tumbuhnya pusat perdagangan sebagai pusat perbelanjaan atau "gaya baru dari pasar" di seluruh kota.

Flieringa, intelektual Belanda di tahun 1930-an mengatakan, "Indie zonder pasars is moeilijke te denken". Ini berarti bahwa Indonesia - dalam hal ini adalah Jawa - tanpa pasar sulit untuk dibayangkan, karena sebagian besar perdagangan didominasi oleh sektor informal di pasar. Pernyataan ini sesuai dengan kondisi Jakarta saat ini. Kota, yang didirikan oleh Jan Pieter zon Coen pada abad ke-17 sebagai tempat pasar, di mana rempah-rempah dari Maluku dan sekitarnya dikumpulkan, merupakan akumulasi banyak pasar. Kota ini tumbuh sebagai pasar yang besar di Jawa di mana hasil bumi dijual dan diekspor ke tempat-tempat lain di Nusantara.

Selama era kolonial, pasar hanya diizinkan untuk buka di hari tertentu dalam seminggu. Ada pasar yang dibuka pada hari Senin dan disebut sebagai Pasar Senen. Ada juga pasar yang diizinkan untuk buka pada hari Sabtu, itu adalah Pasar Tanah Abang. Pasar-pasar tersebar di setiap sudut kota dan di luar tembok kota yang didominasi orang Tionghoa. Di dalam tembok kota ada Vishmarkt (atau ikan Pasar) sebagai satu-satunya pasar di dalam kota. Peraturan yang membuka pasar seminggu sekali dipengaruhi oleh tradisi Belanda di Eropa di mana pasar hanya sekali seminggu.

Fungsi pasar berlanjut sampai jaman modern di mana barang-barang elektronik, pakaian, dan barang-barang lainnya di akumulasi di Jakarta dan dikirim ke kota-kota lain di Indonesia. Meskipun pasar lama seperti Pasar Ikan di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa, Pasar Baru, Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang masih ada, di dekatnya telah di sulap menjadi mal. Pasar seperti Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang masih menjadi titik ekonomi yang penting di Jakarta modern. Bahkan sebelumnya pasar pagi di Mangga Dua telah tumbuh menjadi pasar modern besar. Meskipun Glodok yang telah terbakar beberapa kali ketika kerusuhan terjadi, dia masih merupakan pasar terbesar dan penting di Indonesia di mana semua barang dijual.

Jakarta benar-benar surga bagi mereka yang hobi belanja. Sebagian besar orang Indonesia yang datang ke Jakarta ingin mengunjungi pasar Glodok, Tanah Abang, dan Mangga Dua di mana mereka bisa menemukan barang-barang di harga yang lebih murah. Dalam era informasi Jakarta adalah pusat penjualan perangkat  keras dan lunak komputer. Hampir di setiap sudut kota terdapat mal di mana komputer yang dijual. Jakarta adalah tempat orang-orang yang ingin membeli perangkat lunak ilegal yang murah.