Skip directly to content

Munculnya Sebuah Kota

Menurut Ong Tae Hae, Batavia adalah kota dataran rendah sebanding dengan kota-kota di Tiongkok seperti Shang Hai, dan perumahannya sangat padat (Ong 1849: 6). Kota ini dibangun tahun 1619 di atas puing Kota Jayakarta. Penjajahan dan dominasi adalah sifat yang selalu melekat pada fondasi pembangunan semua pemerintahan colonial; tetapi, untuk Batavia penjajahan itu menjadi sulit diterapkan karena setelah Jayakarta di kalahkan, semua penduduk aslinya ikut melarikan diri bersama pemimpinnya Pangeran Jaya Wikarta ke Banten, atau mereka menghilang begitu saja (Blusse, 1986: 3).

Sebelum dirampas VOC dan diganti dengan nama Batavia, ditempat ini telah ada keraton Pangeran Jayawikarta (Heuken, 1996: 28). Kemudian setelah Jan Pieterszoon Coen gubernur VOC menguasai tempat itu, dia membangan benteng di muara sungai Ciliwung. Pada paruh pertama abad ke 17, Belanda membangun kota benteng di sisi Timur sungai Ciliwung. Kemudian di pertengahan abad ke 17 sisi barat sungai ciliwung di bentengi untuk keamanan kota. Sungai Ciliwung kemudian mengalir ditengah kota sebagai sumber air dan diujungnya terletak Pelabuhan. Ini adalah sebuah disain kota yang sangat ideal dan jenius.

Leonard Blusse, di dalam disertasinya, menulis bahwa Batavia adalah kota Tionghoa karena penduduk aslinya lari ke Banten setelah VOC merampas dan menguasai tempat ini 30 Mei 1619. Penghuni yang masih tinggal di Jakarta adalah orang Tionghoa dengan komunitas kecil. Kekosongan kota ini membuat Belanda kesulitan untuk membangun permukimannya, dan benteng yang kuat untuk menghadapi musuh. Blussesmengibaratkan situasi ini sebagai “Penguasa tanpa rakyat seperti joki tanpa kuda”. Belanda sangat membutuhkan orang yang diperintah dan bekerja untuk VOC. Karena itu Jan Pieterzoon Coen melakukan segala cara membujuk orang dari mana saja untuk mengisi kota. Untuk memikat orang Jawa adalah tidak mungkin karena permusuhan, karena itu dia memikat orang Tionghoa yang akan menjadi komunitas penting di Batavia, nama setelah tempat ini jatuh ke VOC (Blusse, 1986: 52).

Pada awal Batavia, ada dua tokoh dalam komunitas Tionghoa: Jan Con dan Bencong (Blusse, 1986: 55), yang terakhir adalah kapiten Tionghoa yang pertama. Belanda puas dan sangat gembira dengan pemerintahannya kerena orang Tionghoa membayar tujuh kali lebih banyak untuk pembangunan tembok kota (Blusse, 1986: 56). Blusse membidik saat pembangunan kota dan orang Tionghoa memiliki peranan yang besar dalam finansial.

Batavia dibangun oleh orang Tionghoa. Dalam disertasinya, Blusse mengungkapkan bahwa peran orang Tionghoa dalam pembangunan Batavia bukan hanya kepandaian mereka sebagai tukang batu, tetapi juga sebagai kontraktor. Lim Lacco adalah kontraktor terbesar di jaman itu. Apakah kota-kota lain  dan benteng juga dibangun oleh orang Tionghoa? Dalam pembangunan kota Batavia, Jan Con mendapat pekerjaan yang dipesan oleh gubernur jendral yang baru Jacques Spex. Tetapi, selama pengepungan kota oleh Sultan Agung 1628-1629, banyak proyek bangunan yang terbengkalai.

Gubernur yang baru Hendrick Brouwer (1632-1636), memeritahkan pembangunan kanal di sebelah benteng (kastil). Rencana ini di motivasi oleh kenyataan bahwa kota Batavia masih disebelah timur dari liak-liuk muara sungai Ciliwung. Karena itu kanalisasi di bagian Barat harus segera dikerjakan dan pembangunan kota dibagian ini sudah tidak dapat di tunda. Untuk mengerjakan proyek ini Belanda sangat tergantung pada kontraktor dan mandor Tionghoa.

Menerut Hendrick Brouwer gubernur pengganti Spex:

 “Tidak ada orang Belanda yang bersedia mengambil kontrak proyek pembangunan seperti membuka kanal, memasok kayu, tanah liat dan batu. Hanya orang Tionghoa yang berkecimpung di bidang ini. Tanpa pertolongan mereka pembangunan benteng Batavia dan kota akan membutuhkan waktu yang lebih lama.” ( Blusse, 1986: 60-63).

Selama Batavia berdiri ditengah suasana permusuhan, kontraktor yang loyal seperti Jan Con diperlukan Belanda. Pada waktu itu dia mendapat kontrak baru untuk menggali kanal Tionghoa. Tetapi untuk memberi Batavia “penampilan Belanda” kontrak tadi dibatalkan. Sebagai gantinya pada tanggal 13 Mei 1636 Jan Con diberi pekerjaan konstruksi  Rhinoceros Gracht di sebelah Barat Kota dengan harga 2/3 Rial atau 32 sen per kubik depa. Di akhir tahun yang sama, dia menyelesaikan Pasar Ikan yang baru dengan kanal khusus untuk menfasilitasi pendaratan ikan. Menurut De Haan, selama periode yang sama, pengusaha yang tidak pernah lelah ini juga diberi  pekerjaan parit kota yang dalam, yang mengelilingi sebelah barat dan utara (De Haan 1935 I:79).

Melihat kenyataan pada waktu yang sama Jan Con menjadi supplier utama kapur, batu dan kayu uantuk pembangunan benteng kastil dan kota Batava, jelas proyeknya sangat besar dan melibatkan banyak orang. Proyek-proyek ini memberi kita impresi betapa sibuknya aktititas orang ini (Blusse, 1986: 63).

Pembatalan Kanal Tionghoa dan alasan untuk memberi penampilan belanda kewajah kota, memicu hipotesa bahwa tidak ada arsitektur Tionghoa di Batavia pada jaman itu. Hipotesa ini dapat dibuktikan melalui lukisan Johannes Rach tahun 1760 setelah pembunuhan orang Tionghoa. Dia melukis pemandangan Glodok di luar Tembok Kota dengan kelentengnya dalam arsitektur Tionghoa.  Sebaliknya di lukisan yang lain oleh Nieuhoff, rumah sakit Tionghoa di dalam tembok kota, jelas arsitektur Belanda.

Kelenteng Petak Sembilan