Skip directly to content

Seri ID 002

on Fri, 12/05/2014 - 05:01
Berbeda-beda di Kamar Lelang
Berbeda-beda di Kamar Lelang

Pada dasarnya peradaban kota adalah perbedaan budaya penghuninya yang menyatu penuh dengan kedamaian. Peradaban adalah keragaman manusia untuk saling mengerti dalam mengarungi kehidupan bersama-sama. Di dalam perbedaan, manusia disatukan oleh tujuan mendapatkan kesejahteraan bersama-sama. Kota yang beradab, memiliki penduduk yang berbudi, berkesopanan dan saling menghomati. Tetapi, kota yang beradab juga akan memberontak tatkala tempat sekelompok manusia disangkal dan dibuang dengan semena-mena. Pemberontakan yang terjadi adalah sejarah ruang tentang pengalaman hidup manusia dengan tempat dan identititasnya. Sejarah ruang ini lah yang harus direkonstruksi secara utuh dengan segala keterbatasannya. Sejarah ruang harus mampu mendekonstruksi sejarah politik suatu kota yang selama ini mendominasi tutur sejarah yang dimengerti manusia. Sejarah politik harus didekonstruksi untuk mengerti “ke-adaban” manusia yang bukan hanya sekedar peradaban. Pengalaman tiada akhir yang  di lukiskan dalam sejarah ruang, adalah tentang persahabatan, cinta, dan kebaikan yang tertutup oleh kebiadaban VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau disebut dengan Kumpeni.

Batavia sampai dengan awal abad ke delapan belas adalah kota yang beradab. Kota yang terdiri dari beragam suku dan budaya. Sebuah kota di pantai utara Jawa yang solid dengan kebudayaan metropolis dimana setiap bangsa memiliki model rambut, pakaian, kebiasaan, dan bahasa yang berbeda-beda. Bangsa Eropa memakai baju dan celana panjang yang berbeda dengan qipao baju orang Tionghoa. Potongan rambut laki-laki Eropa yang pendek sangat kontras dengan potongan rambut lelaki Tionghoa yang di kuncir ke belakang dan kepala bagian depan di cukur. Para wanitanya juga berbeda dari gaun yang panjang menutup mata kaki dan bertopi merupakan gaya yang berbeda dari istri Tionghoa yang bersarung dan rambut digelung karena mereka kebanyakan orang Bali.  Kebudayaan disini adalah kebudayaan yang menyatu dan menjadi bagian dari hidup yang damai.

Tetapi kebudayaan dicoreng-moreng oleh dikotomi antara penguasa, Kumpeni Belanda dan yang “dikuasai” yakni orang Tionghoa serta orang-orang lain dari Nusantara dan bagian lain di Asia. Walaupun kotanya di perintah oleh Kumpeni, tetapi penduduk terbesar adalah Tionghoa. Walaupun kotanya memiliki benteng sebagai pusat kekuasaan Kumpeni, ruang perdagangan secara keseluruhan terpusat di Pecinan yang terbuka dan tidak berbenteng.