Skip directly to content

Seri ID 027

on Fri, 09/02/2016 - 06:06
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong
Rumah Kapiten Nie Hoe Kong

 

  1. Malam Penyambutan

Malam itu bulan tidak penuh, tertutup awan sedikit pada ujung sabitnya. Awan yang sedikit menutupi terang langit. Lampu-lampu obor jalan bertebaran seakan menyambut Jing Bing dari perjalanan jauh. Didepan Rumah sakit yang bersebelahan dengan penjara wanita tampak orang berjualan hilir mudik menjajakan berbagai macam makanan. Kota yang hidup bukanlah kota yang penuh dengan bangunan indah tapi kosong melompong dari manusia. Hidupnya kota adalah karena manusia yang hiruk-pikuk, sibuk berjualan dipasar dan jalan-jalan yang penuh sesak dengan pedagang, pejalan kaki, perahu yang hilir mudik dan beberapa kereta kuda yang membuang kotoran dimana-mana.

Kesibukan dijalan itu dimalam hari seakan melupakan masalah kota yang harus dihadapi. Bulan yang sabit seakan jatuh di kanal-kanal Batavia yang terkenal sebagai kota yang indah pada waktu dahulu tetapi memiliki banyak masalah pada waktu sekarang.

Jalan yang berdebu disiang hari karena dilewati gerobak dan kereta kuda tampak tenteram. Bagi Jing Bing yang baru menginjak Batavia, malam pertama adalah misteri. Seakan malam yang menjadi misteri bagi jiwanya. Kegelapan dan sinar obor yang  remang-remang sama sekali tidak memberikan keramahan, menakutkan. Malam adalah jiwa yang melayang tidak tentu rimbanya, kegelapan memberikan tanda tanya. Semua serba gelap dan membutuhkan orang lain tempatnya bergantung...... Poh An. Jalan yang tadi siang tampak jelas seakan berubah menjadi lorong yang harus secara hati-hati dicermati agar tidak tersesat.

“Pada jam begini masih banyak orang lalu lalang karena gerbang Utrech belum ditutup. Dibalik tembok kota ini lebih banyak lagi penjual makanan.” Celoteh Poh An yang menjemput Jing Bing malam itu dan kemudian berjalan disampingnya.

“Aku dengar banyak Tionghoa yang tinggal diluar tembok kota ya?”

“Benar, jumlah mereka lebih banyak dari pada yang tinggal didalam tembok kota”

Rumah Kapiten Nie Hoe Kong tak jauh dari rumah sakit, di Roa Malaka, tepatnya di jalan gereja portugis, terletak ditepi jalan dengan kanal jonker. Jalan yang berdebu telah mengantar mereka berdua didepan rumahnya. Seperti rumah lain, rumah Kapiten Nie Hoe Kong memanjang sampai kejalan tanpa menyisakan ruang. Di bagian depan berlantai dua dengan jendela yang besar-besar sebagai gerbang dan gudang. Begitu masuk kepintu gerbang tampak halaman yang luas dengan bangunan utama ditengahnya.

Disudut halaman di beri atap tratag dan panggung musik Gambang Kromong untuk menyambut junk dari Tiongkok yang mendarat di Batavia, sayang junk ini tak boleh mendarat terlalu lama di kota Batavia karena orang Belanda memiliki rasa curiga terhadap bangsa Tionghoa yang sudah banyak Jumlahnya. Pintu gerbang rumah kapiten Nie Hoe Kong terbuka lebar sehingga penduduk dapat keluar masuk dengan leluasa.

Kapiten Nie Hoe Kong duduk di teras dengan ditemani beberapa orang Tionghoa, diantaranya letnan Nio Kanko, Tan Tion Qua dan Oei Tsomko. Mereka rupanya bukan hanya merayakan junk yang datang dengan membawa barang dari Tiongkok yang mereka jual juga menyambut Jing Bing, karena sudah lama rumah sakit Tionghoa tidak ada sinshenya. Dengan mengangkat pai – soja - sebagai penghormatan, Jing Bing pun duduk didepan mereka.