Skip directly to content

Seri ID 028

on Thu, 09/15/2016 - 08:29
Pemandangan Dari Kali Besar Ke Jalan Utrecht
Pemandangan Dari Kali Besar Ke Jalan Utrecht

“Selamat datang Sinshe Tan.” Nie Hoe Kong dalam bahasa Hokien menyambut Jing Bing dengan sopan. Mempersilahkannya duduk di sebelahnya. Diteras yang luas itu terdapat beberapa kursi untuk para tamu yang terhormat mengelilingi meja besar dan bundar.

“Aku harap Sinshe akan krasan di Batavia.” sambungnya. Wajahnya bersinar-sinar gembira.

“Di Kota ini sedang banyak mengalami masalah baik kejahatan ataupun kesehatan.” timbrung letnan Nio Kanko.

“Banyak orang terkena sakit misterius.” Nie Hoe Kong menambahkan.

“Apakah mungkin bisa dijelaskan kapiten?” tanya Jing Bing menyela.  

 “Kota ini sejak setahun lebih dilanda masalah dengan penyakit panas dingin yang menimbulkan banyak kematian. Dokter-dokter Belanda mencoba membasminya dengan berbagai cara tapi tidak ada hasilnya. Kami berpendapat bahwa obat dan sinshe dari Tiongkok mungkin dapat mengetahui cara penyembuhan nya.” jelas Nie Hoe Kong sambil menghisap pipa rokoknya.

“Gue juga lebih percaye ame obat bangsa kite.” sambung Oei Tsomko, “Anak gue pernah panas naik turun dan bisa sembuh ame obat kite” Oei Tsomko menjelas kan dalam bahasa Betawi, dia lahir di Batavia dan sudah tidak bisa berbahasa Hokien, tetapi bisa mengerti.

“Obat Tionghoa itu obat dari dewa yang selalu manjur.” kata Tan Tion Qua.

“Bagaimanapun kite nggak bise hidup tanpa sinshe, gue lebih percaye sinshe dari pada dokter” kata nyonya Nie Hoe Kong duduk didekat pintu sambil minum teh. Dia dari tadi duduk disitu sambil mendengarkan pembicaraan suami dan teman-temannya, sambil sekali-sekali nyeletuk, nimbrung pembicaraan.  

Tetapi belum selesai dia menjelaskan tiba-tiba dari gerbang muncul tiga orang tinggi besar yang seorang lebih tua sambil membawa tongkat dengan langkah kaki yang mantap diikuti dengan dua orang yang lebih muda.

“Selamat malam Tuan-tuan.” sapanya, bayangannya membentuk silouet yang ditimpa cahaya obor.

“Ah dokter Herman van Santen, selamat malam mari bergabung dengan kami dokter” letnan  Nio Kanko menyambut kedatangannya seraya berdiri.” semua berdiri dan Jing Bingpun ikut berdiri.