Skip directly to content

Wajah Yang Mendua

Kita mengenal jalan Anyer-Panarukan yang menghubungkan berbagai kota di Pulau Jawa yang akhirnya menjadi jalur Pantura. Pembangunan jalan yang di lakukan Daendels dengan mengorbankan sepuluh ribu nyawa manusia ini telah mengakibatkan timbulnya kota-kota di sepanjang jalan ini. Jalan ini menjadi jalur ekonomi Pulau Jawa yang jika terganggu akan mengakibatkan terganggunya nadi ekonomi seluruh negeri. Kita juga mengenal Lapangan Banteng, Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden, Gereja Imanuel, dan berbagai bangunan di sekitar Monas. Ini adalah hasil karya Daendels yang memindahan Ibukota dari Batavia Lama ke Batavia Baru, atau sekarang Jakarta.

Ironisnya Daendels yang memiliki wajah sebagai pembangun, sekaligus juga penghancur kota lama Batavia. Selain tembok kota, dia juga menghancurkan Kastil Batavia dan bangunan-bangunan penting di Kota Lama Batavia. Material bangunan yang dihancurkan itu untuk membangun kota yang baru. Lokasi bangunan yang di hancurkan itu ada yang dibangun kembali dengan bangunan baru bergaya art-deco di paruh pertama abad 20.

Penghancur dan sekaligus pembangun itulah Daendels yang dalam waktu singkat bukan hanya mengubah wajah Jakarta tetapi juga wajah pulau Jawa. Dalam perubahan itu dia meninggalkan kenangan akan kekejaman kerja paksa pada saat membangun jalan dari Anyer ke Panarukan.

Berbeda dengan Raffles yang meninggalkan nama harum diingat oleh bangsa yang di jajahnya, Daendels meninggalkan kenangan pahit di Negeri Jajahan sehingga tak ada satupun tugu peringatan baginya. Pembangunan Batavia baru tidak mampu membayar dosanya karena menghancurkan Batavia Lama. Bayangkan jika Batavia Lama masih utuh dengan Kastil, Tembok kota, serta bangunan-bangunan lainnya, tentu dengan mudah akan mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai kota tua bersejarah yang harus di lestarikan. Namun di jaman internet dimana pariwisata terus berkembang, maka Nama Daendels pun seharusnya diangkat dari kebencian sehingga para wisatawan mengenal sejarah Jakarta dan Pulau Jawa secara utuh.

Berbeda dengan hubungan inggris dan negeri Jajahannya yang cenderung baik sehingga nama Raffles selalu dikenang keharumannya di Asia, secara keseluruhan hubungan antara Belanda sebagai penjajah dan Indonesia yang dijajah cenderung buruk. Namun untuk memberi gambaran yang utuh tentang sejarah Indonesia kepada para wisatawan sebaiknya sejarah Hindia Belanda dihadirkan kembali.

Untuk itu, sebaiknya patung monument Daendels dan museumnya dibangun di kota lama Jakarta terlepas dari wajah Daendels yang mendua antara perusak dan pembangun. Kisah-kisah lama dihidupkan kembali senada dengan nilai sejarah dan seni. Nama Gubernur Jendral di Jaman Hindia Belanda, yang terasa sangat asing di telinga, dihadirkan kembali sehingga sejarah Jakarta teruntai secara utuh bukan terputus-putus seperti sekarang ini. Demikian pula nama-nama jalan di Jaman Hindia Belanda di kembalikan seiring dengan restorasi bangunannya. Misalnya nama Jalan cengkeh dikembalikan menjadi Princestraat, nama Jalan Teh dikembalikan menjadi Hereestraat, bukankah lebih elit?

Para wisatawan manca Negara akan lebih tertarik untuk mengunjungi Jakarta jika patung dan gambar orang Belanda yang dulu tinggal di kota ini di hadirkan kembali. Bagi Kita mungkin kehadiran sejarah orang Belanda di Jakarta sangat menyakitkan, tetapi jika itu adalah jalan untuk menghadirkan wisatawan mengapa tidak?      

Sejarah adalah bagian yang menarik para wisatawan. Mereka datang ke Jakarta bukan untuk shopping atau merasakan naik Bus Transjakarta, tetapi untuk mengenal sejarahnya secara lebih dekat. Itulah mengapa Museum Jakarta, Toko Merah dan Jembatan Pasar Ayam selalu mereka datangi. Mengapa tidak kita buka lebih luas tentang sejarah orang kulit putih di Kota Lama Jakarta secara utuh?

Sejarah adalah kisah baik dan buruk yang menjadi satu mengisi kekinian. Masa kini menjadi berarti jika sejarah itu di hadirkan dan mendapat tempat yang baik. Kota lama Jakarta secara jujur harus di akui sebagai kota Belanda di Asia. Keunikan itu yang dapat kita jual kepada para wisatawan. Kita seharusnya bangga bahwa kota tua Jakarta adalah kota Belanda sehingga penuh dengan bangunan klasik dan unik.

Wajah seperti Daendels yang mendua antara perusak dan pembangun serta kekejaman yang menimbulkan kebencian selalu ada di dalam sejarah. Bukan berarti kebencian itu yang selalu kita kenang, tetapi kenangan baik dan buruk mendapat tempat yang seimbang. Keberadaan Belanda dalam sejarah Indonesia bukan hanya kita hadirkan sebagai penjajah yang kejam dan menimbulkan kepahitan. Tetapi kehadiran Belanda kita angkat sebagai bagian ruang kota yang juga terasa manis.  Itu adalah bagian pariwisata yang menarik untuk mengisi dan menghidupkan kota lama Jakarta.

Heerestraat
Heerestraat