Skip directly to content

Top Writing

To read more please click the title or the picture.
Title The Story
Seri ID 035Kastil Batavia

Bagi para pasien, Sinshe Tan Jing Bing memang pelo dan bahasa Melayu nya tidak jelas ditelinga mereka, tapi Jing Bing terus berusaha dan berusaha memperbaikinya. Sinshe Tan tertarik dan senang dengan orang Batavia yang memiliki keragaman budaya dan kebanyakan ramah. Orang menyebutnya sinshe dan menghormatinya karena dia dianggap sebagai dewa penolong, tetapi sinshe Tan merasa biasa saja. Yang membuat nya sedih kalau orang mulai membeda-bedakan karena status sosialnya. Perbedaan status sosial yang membedakan antara orang merdeka dan budak.

Series EN 035The Castle of Batavia

For the patient, Sinshe Tan Jing Bing did babble and his Malay language was not clear in their ears, but Jing Bing kept trying and trying to speak better. Sinshe Tan interested and liked the Batavians whose culture are divers and mostly are friendly. People called him sinshe and respect him because he was regarded as a god healer, but sinshe Tan was still low profile. He was sad when people begin to discriminate one to another because of their social status. Social status differences that distinguish between the free men and the slaves.

3. Hotel de Provence Hotel des Indes Guest Pavilliun

Pada tahun 1828 rumah itu dibeli dua pengusaha Perancis bernama A. Chaulan dan J.J. Didero. Kedua orang ini agaknya memang berusaha di bidang perhotelan, sebab mereka mempunyai sebuah losmen di Bidara Cina. Nama Chaulan diabadikan untuk nama Gang Chaulan. Penduduk lama kota Jakarta mengenal gang itu dengan nama jalan Kemakmuran, yang kemudian berganti nama lagi menjadi jalan Hasyim Ashari.

Mula-mula hotel itu dikenal dengan nama Hotel Chaulan saja; kemudian menjadi Hotel de Provence (1835) untuk menghormati daerah kelahiran pemiliknya.

3. De Provence HotelHotel des Indes Guest Pavilliun

In 1828 the house was purchased by two French businessmen named A. Chaulan and J.J. Didero. Both are in the hospitality business, because they already had a hostel in Bidara Cina. The name Chaulan  was immortalized for an alley name Gang Chaulan. The old resident of the city called the alley Kemakmuran Street, which was then renamed again to Hasyim Ashari Street.

At first, the hotel was known as Hotel Chaulan only; later it became Hotel de Provence (1835) in honor of the owner’s birth place.

Seri ID 034Penjara Wanita

Asrama juru rawat yang disebut Zieken Oppaser, diperuntukkan bagi juru rawat yang belum menikah, berada di sayap samping belakang rumah sakit dengan pintu tembus yang terbuka. Mereka bergiliran menjaga pasien dan harus siap sedia jika keadaan pasien menjadi darurat. Dibelakang asrama mereka terdapat ruang mayat yang dapat dicapai dari jalan belakang. Pasien yang meninggal dibawa pulang dan diadakan upacara di rumah.

Series EN 034Women's Prison

The dormitory of nurses, called Zieken Oppaser, intended for nurses who were not married, was in the hospital building of the back side with a passage. They took turns keeping the patient and should be ready if the patient condition becomes in an emergency. Behind the dormitory  were the mortuary which can be reached from the road behind the hospital. Patients who died were brought home where the ceremony was held.

2. Moenswijk Reiner de Klerk

2. Moenswijk

Moenswijk boleh dikata rumah yang paling dekat dengan pinggiran sebelah selatan pada zaman itu. Sekitar gedung Tabungan Pos (BTN) dan Asrama CPM Jaga Monyet (sekarang Jl. Suryopranoto) terdapat pos penjagaan atau benteng kecil Rijs-wijk. Nama Jaga Monyet menumbuhkan dugaan bahwa kawasan di luar benteng seperti Harmoni, Petojo dan lain-lain masih hutan lebat berawa-rawa.

Moenswijk berasal dari nama pemilik pertamanya, Adriaan Moens, seorang Directeur Generaal VOC yang kaya-raya. Sayang tak banyak yang kita ketahui tentang riwayat rumah dan tanah seluas 22.000 m persegi ini.

2. MoenswijkReiner de Klerk

2. Moenswijk

By that time Moenswijk was the closest house to the south outskirts of the city. Around gedung Tabungan Pos (BTN) and CPM Dormitory Jaga Monyet or monkey (now Suryopranoto street) there is a checkpoint or a small fort Rijs-wijk. It was called Monkey because the area outside the fort like Harmony, Petojo and others still marshy dense forest.

Moenswijk derived from the name of its first owner, Adriaan Moens, a wealthy VOC Directeur Generaal. Unfortunately we know not much about the history of the house and the land area of 22,000 square meters.

1. Hotel Des IndesHotel des Indies

1. Hotel Des Indes

Dengan dibangunnya kompleks pertokoan Duta Merlin pada tahun 1971, tamatlah riwayat Hotel  Duta Indonesia. Sebuah hotel kenamaan seperti Raffles Hotel Singapura atau Clarence House di London. Jakarta pun kehilangan satu gedung beriwayat lagi, yang telah menyaksikan perkembangan kota ini dari akhir abad ke-18 sampai tahun 70-an.

Tidak seluruh Hotel Duta Indonesia yang dulu bernama Hotel des Indes berusia setua itu. Bagian yang tertua ialah dependance atau pavilyun sebelah selatan yang biasanya dipakai untuk resepsi atau pameran.

1. Hotel Des IndesHotel des Indies

1. Hotel Des Indes

With the construction of shopping complex Duta Merlin in 1971, Hotel Duta Indonesia’s history is finished. It was a famous hotel like Raffles Hotel in Singapore or Clarence House in London. Jakarta lost one more historical building, which has witnessed the development of this city from the late 18th century until the 70s.

Not all parts of Hotel Duta Insonesia, formerly Hotel des Indes, was as old as that. The oldest part was the south pavilion, usually used for receptions or exhibitions.

Pages